Karakteristik Sosialisasi
Proses sosialisasi memiliki sejumlah karakteristik sebagai
berikut:
1.
Sosialisasi adalah proses yang diikuti secara aktif oleh pihak
yang mensosialisasikan dan yang disosialisasikan.
2.
Proses sosialisasi dapat terjadi secara sengaja melalui pendidikan
dan pengajaran serta tidak sengaja melalui interaksi sosial.
3.
Sosialisasi sering kali dilakukan oleh dua pihak, yang secara
sadar ataupun tidak bekerja mewakili masyarakat.
4.
Sosialisasi berwujud proses belajar yang berhubungan dengan
kepribadian dan kebudayaan.
5.
Sosialisasi menggali dan mengembangakan potensi-potensi setiap
individu.
6.
Sosialisasi berpengaruh dalam kelangsungan keadaan tertib
masyarakat.
Bentuk Sosialisasi
Sosialisasi dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu sosialisasi
primer dan sosialisasi sekunder.
1.
Sosialisasi Primer adalah sosialisasi pertama yang didapatkan individu ketika
kecil, dimana ia belajar menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi ini terjadi di
dalam keluarga.
2.
Sosialisasi Sekunder adalah sosialisasi lanjutan yang memperkenalkan individu ke
dalam lingkungan di luar keluarganya. Sosialisasi ini terjadi di dalam
masyarakat.
Tipe Sosialisasi
Proses sosialisasi yang ada di masyarakat dapat dibedakan menjadi
dua tipe yaitu sosialisasi formal dan sosialisasi informal.
1.
Sosialisasi Formal terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang berdasarkan
ketentuan yang berlaku dalam suatu negara seperti sekolah.
2.
Sosialisasi Informal berlangsung melalui pergaulan yang bersifat kekeluargaan
seperti antara teman, sahabat, dan keluarga.
Pola Sosialisasi
Gertrude Jaeger mengkategorikan sosialisasi ke dalam dua pola,
yaitu pola sosialisasi represif dan partisipatoris.
1.
Sosialisasi Represif adalah sosialisasi yang menekankan pada hukuman atas
kesalahan. Proses pola sosialisasi ini lebih bersifat otoriter atau satu arah.
2.
Sosialisasi Partisipatoris adalah sosialisasi proses sosialisasi yang memfokuskan
sosialisasi melalui penjelasan-penjelasan dan diskusi. Proses ini dilakukan
dengan memberikan dorongan berupa sikap saling memberi serta menerima.
Agen/Media Sosialisasi
Agen atau media sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan
sosialisasi. Fuller dan Jacobs menjelaskan terkait empat agen sosialisasi utama
yaitu:
1.
Keluarga sebagai unit
terkecil dalam masyarakat bertanggung jawab melakukan sosialisasi pertama pada
anak.
2.
Kelompok Sebaya sebagai agen sosialisasi lanjutan setelah melalui
sosialisasi dalam keluarga.
3.
Sekolah sebagai agen
sosialisasi yang bertanggung jawab mempersiapkan individu untuk peran-peran di
masa mendatang ketika sudah tidak bergantung lagi pada orang tua.
4.
Media Massa sebagai agen sosialisasi dalam menyampaikan pesan melalui media
cetak (surat kabar atau majalah) dan media elektronik (radio, televisi,
internet, film, kaset, dan CD).
Teori dalam Sosialisasi
Teori Looking-Glass Self (Charles Horton Cooley)
Charles Horton Cooley menciptakan istilah looking-glass
self untuk menggambarkan bahwa konsep diri seseorang berkembang
melalui interaksinya dengan orang lain. Oleh karena itu, keberadaan seseorang
berkembang berdasarkan interaksi dan persepsi orang lain khususnya orang
terdekat.
Cooley menyebutkan bahwa looking-glass self mengandung tiga unsur,
yaitu:
1.
Seseorang membayangkan bagaimana ia tampak bagi orang-orang di
sekelilingnya.
2.
Seseorang menarik kesimpulan mengenai dirinya melalui reaksi orang
lain.
3.
Seseorang mengembangkan suatu konsep dirinya melalui reaksi orang
lain.
Role-Taking (George Herbert Mead)
Menurut George Herbert Mead manusia yang baru lahir masih belum
memahami mengenai diri yang terpisah dari orang lain. Melalui sosialisasi dan
pembelajaran saat mengambil peran orang lain (role-taking), diri manusia
berkembang secara bertahap. Adapun proses sosialisasi ini berlangsung dalam
tahap berikut:
1.
Preparatory stage, tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan,
ketika seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya. Di
dalamnya termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Ketika tahap ini
anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
2.
Play Stage, tahap ini ditandai ketika semakin sempurnanya seorang anak
menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa terdekatnya.
3.
Game Stage, peniruan yang dilakukan anak sudah berkurang dan digantikan oleh
peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran.
Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat karena ia
telah memahami dan mengetahui peran yang harus dijalankannya.
4.
Generalized Stage/other, pada tahap ini seseorang telah dianggap
dewasa. Ia bisa menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Pada
tahap ini, individu telah berhasil menjadi bagian dari masyarakat dalam arti
sepenuhnya.
Komentar
Posting Komentar