Kalian tau nggak apa itu Tribina?
Tribina merupakan program pemberdayaan masyarakat yang
dibentuk oleh BKKBN dengan tujuan untuk memberikan wawasan kepada masyarakat
terkait dengan pembinaan keluarga, yang mengedepankan peran serta kepedulian
anggota keluarga guna mencapai kesejahteraan di dalam keluarga.
Tri Bina memiliki tujuan khusus untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan orangtua maupun anggota keluarga lainnya dalam membina balita maupun remaja. Untuk balita berhubungan dengan pola asuh balita, perkembangan fisik atau tumbuh kembang balita, kemampuan motorik. Sedangkan untuk remaja mengenai cara efektif berinteraksi dengan remaja, bimbingan kepada anak remaja, dan lain-lain. Selain itu, Tri Bina juga mengedepankan kesejahteraan lansia agar tetap memiliki produktifitas yang baik di lingkungan keluarga dan masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, Tri Bina dibagi menjadi 3 bagian, diantaranya adalah BKB (Bina Keluarga Balita), BKR (Bina Keluarga Remaja), BKL (Bina Keluarga Lansia).
BKB (Bina Keluarga Balita)
BKB merupakan salah satu bagian dari Tribina yang khusus
mengelola tentang pembinaan terhadap balita. Tujuan dari BKB yaitu untuk
menambah wawasan serta meningkatkan ketrampilan orangtua dalam mengasuh
balitanya. Pembinaan tersebut meliputi pola asuh balita, perhatian orang tua terhadap
fungsi motorik balita, gizi seimbang bagi balita, dan lain-lain. Hubungan
antara orangtua dan balita memiliki pengaruh yang besar bagi balita untuk masa
mendatang.
Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan oleh orangtua
dalam hal pola asuh untuk balita, diantaranya adalah:
1. Pola pengasuhan anak usia dini Dalam pengasuhan anak,
terdapat 3 kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi orangtua, yaitu:
🍛Kebutuhan kesehatan dan gizi
🍛Kebutuhan kasih sayang
🍛Kebutuhan stimulasi
2. Prinsip Gizi Seimbang
🍹Makan beraneka ragam makanan
✏Mengenalkan beragam jenis makanan bergizi
pada balita secara bertahap sesuai umur, seperti nasi tim, nasi lunak, aneka
olahan sayuran dan buah dengan berbagai variasi, contohnya jus buah, tim sayuran, dsb.
✏Pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun.
✏Membatasi/menghindari makanan manis untuk anak seperti, permen, cokelat, dsb.
🍹Membiasakan
pola hidup bersih sejak dini
🍹Membiasakan
anak untuk beraktivitas fisik di luar rumah
🍹Memantau
berat badan balita
✏Pemantauan dilakukan secara teratur setiap bulan di Posyandu/Puskesmas.
✏Balita tumbuh sehat ditandai dengan
kenaikan berat badan sesuai dengan grafik kenaikan berat badan pada Kartu
Menuju Sehat (KMS).
BKR (Bina Keluarga Remaja)
Berdasarkan Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang
pembangunan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. Terdapat 4 (empat)
upaya pokok keluarga berencana nasional, diantaranya adalah pendewasaan usia
perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan
kesejahteraan keluarga.
BKL (Bina Keluarga Lansia)
BKL merupakan program yang ditujukan kepada keluarga yang
memiliki lansia (lanjut usia). Tujuan dari BKL adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan lansia melalui kepedulian dan peran anggota keluarga, sehingga
terbentuk lansia yang produktif, aktif, mandiri, sehat, dan bermanfaat bagi
keluarga maupun masyarakat.
Di dalam kegiatan BKL, terdapat pembinaan yang berkaitan dengan pembinaan fisik bagi lansia. Pembinaan tersebut mempertimbangkan faktor usia dan kondisi fisik yang berbeda- beda setiap orang. Pertimbangan tersebut bertujuan untuk memberikan pembinaan atau penanganan kepada lansia sesuai dengan kebutuhan secara maksimal. Terkait dengan pembinaan terhadap lansia, terdapat beberapa masalah psikis yang dialami lansia, diantaranya adalah kecemasan dan ketakutan. Kecemasan meliputi cemas akan perubahan fisik, fungsi anggota tubuh, kekuatan sosial, dan terasingkan dari kehidupan sosial masyarakat. Di samping itu, ketakutan meliputi takut kesehataannya terganggu, takut berumur pendek (meninggal), takut kekurangan uang, dan lain- lain.
Selain permasalahan psikis, terdapat beberapa permasalahan
yang menyangkut tentang kemunduran fungsi- fungsi anggota tubuh pada lansia
sehingga berpengaruh pada kegiatan atau aktivitas lansia sehari- hari. Di
samping itu, permasalahan juga muncul pada hal yang berkaitan dengan gizi
seimbang untuk lansia. Beberapa permasalahan yang umum terjadi adalah sebagai
berikut:
1. Gangguan kesehatan pada lansia:
👴Penurunan fungsi saraf dan panca
indera.
👴Penurunan fungsi kerja pembuluh darah,
jantung, dan paru- paru.
👴Perubahan sistem kerja organ
pencernaan seperti, gigi ompong, kemunduran fungsi usus sehingga lebih sulit
mencerna makanan serta menimbulkan penurunan nafsu makan.
👴Penurunan kepadatan tulang, otot, dan
sendi.
👴Adanya gangguan lain seperti rambut
beruban, gangguan pola tidur, dan elastisitas kulit.
👴Anemia, dapat terjadi akibat rendahnya
asupan makanan sumber zat besi, vitamin B12, vitamin C, dan asam folat.
👴Sembelit, dapat terjadi akibat rendahnya
asupan serat dan air mineral, kurang aktivitas fisik.
👴Penyakit degeneratif, seperti DM, asam
urat, hipertensi, hiperlipidemia, jantung koroner, dll.
👴Osteoporosis, mudah terjadi pada lansia
akibat makanan yang kurang beragam serta kurangnya aktivitas fisik, dsb
👴Ketahanan tubuh yang menurun.
2. Permasalahan pada lansia terkait dengan gizi seimbang
meliputi :
🍚Gizi
berlebih (overweight/obesitas), umumnya terjadi pada lansia di kota- kota
besar, akibat kebiasaan makan tinggi kalori pada saat muda, serta kurangnya
asupan serat dan aktivitas fisik. Kegemukan merupakan salah satu pencetus
berbagai penyakit, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, dsb.
🍚Gizi
kurang (kurus), sering disebabkan oleh masalah sosial ekonomi dan akibat
gangguan penyakit. Jika asupan kalori terlalu rendah dari kecukupan gizi yang
dianjurkan dapat menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apalagi jika
disertai kekurangan protein menyebabkan kerusakan sel yang tidak dapat
diperbaiki, antara lain kerontokan rambut, daya tahan tubuh menurun, serta
mudah terserang penyakit.
🍚Kurang
vitamin dan mineral, jika konsumsi buah dan sayuran kurang. Akibatnya antara
lain, penglihatan menurun, elastisitas kulit menurun, penampilan menjadi lesu,
dan tidak bersemangat.
🍚Terdapat
beberapa solusi yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengatasi maupun
menghindari masalah- masalah yang kemungkinan terjadi pada lansia. Penerapan
gizi seimbang merupakan kunci utama untuk menghindarkan berbagai penyakit pada
lansia. Hal positif yang didapatkan dari penerapan gizi seimbang adalah
terwujudnya lansia yang sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat.
Beberapa prinsip gizi seimbang untuk Lansia diantaranya yaitu :
🍳Makan beraneka ragam makanan.
🍳Perbanyak konsumsi buah dan sayuran.
🍳Konsumsi air mineral secara cukup (6-8
gelas sehari).
🍳Batasi makanan berlemak (gorengan, jeroan,
gajih, dll); makanan manis (sirup, selai, kue, biskuit, dll); makanan tepung-
tepungan (roti, mie, kue, dll).
🍳Batasi makanan yang dapat meningkatkan kadar
asam urat seperti, usus, paru, lidah, otak, seafood, kacang- kacangan, bayam,
kangkung, mlinjo, jamur, dsb.
🍳Batasi konsumsi natrium 1 sendok
teh/hari (garam, kecap, mie instan, soda, snack).
🍳Pola hidup bersih.
🍳Aktivitas fisik.
🍳Pemantauan berat badan ideal.
🍳Pemantauan berat badan dilaukan dengan menimbang
berat badan secara teratur, mengatur pola makan bergizi dan seimbang, serta
cukup aktivitas fisik.
🍳Mewaspadai peningkatan atau penurunan berat badan > 0.5 kg/minggu dari berat badan normal. Berat badan (BB) ideal dapat dihitung menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Tribina merupakan program yang sangat berpengaruh bagi keluarga.
Melalui program Tribina, diharapkan keluarga memiliki pemahaman serta pengetahuan lebih dalam membina balita, remaja, dan lansia. Dengan penerapan program tersebut, diharapkan setiap keluarga mampu mencapai kesejahteraan serta mampu mencapai keluarga yang berkualitas.Wujudkan Keluarga Berkualitas Dengan Tri Bina!!!






Komentar
Posting Komentar