Suatu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan
norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat disebut sebagai perilaku
menyimpang. Oleh karena itu, terjadinya penyimpangan (deviation)
disebabkan pola perilaku seseorang yang gagal menyesuaikan diri (conformity)
terhadap kehendak masyarakat.
Bentuk Penyimpangan Sosial
Berdasarkan Sifatnya
Penyimpangan positif yaitu perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma
dalam suatu masyarakat, tetapi berdampak positif bagi pelaku penyimpangan atau
orang lain. Contoh: perempuan yang bekerja di pekerjaan yang mayoritas
laki-laki.
Penyimpangan negatif yaitu perilaku penyimpangan yang menimbulkan keresahan dan
memberikan dampak negatif kepada pelaku dan orang lain.
Berdasarkan Jumlah Pelaku
Penyimpangan individual adalah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh satu orang.
Penyimpangan kolektif adalah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh lebih dari satu
orang atau kelompok secara terkoordinasi.
Berdasarkan Jenisnya
Penyimpangan primer merupakan penyimpangan yang bersifat temporer dan masih ditolerir
oleh masyarakat.
Penyimpangan sekunder merupakan penyimpangan yang dilakukan secara berulang-ulang
dan mengarah pada pelanggaran hukum.
Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang
Terdapat sejumlah faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang,
yaitu:
Longgar/tidaknya nilai dan norma
Nilai dan norma sosial yang berlaku di suatu
masyarakat berbeda dengan yang berlaku di tempat lain. Oleh karena
itu, ukuran perilaku menyimpang tidak berdasarkan ukuran baik atau buruk,
melainkan ukuran longgar tidaknya nilai dan norma sosial yang berlaku pada
masyarakat tersebut.
Sosialisasi tidak sempurna
Sosialisasi tidak sempurna dapat terjadi ketika pada proses
penanaman nilai dan norma terhadap individu terdapat ketidakselarasan dengan
lingkungannya. Misalnya, seperti pada proses sosialisasi dari orang tua
terhadap anak tetapi lingkungan tempat tinggal memiliki nilai dan norma sosial
yang berbeda atau bertentangan.
Sosialisasi subkultur menyimpang
Adanya suatu kebudayaan khusus (subkultur) yang normanya
bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan bisa menyebabkan terjadinya
perilaku menyimpang.
Teori Penyebab Perilaku Menyimpang
Terdapat beberapa teori yang dicetuskan oleh para sosiolog mengenai
perilaku menyimpang, terutama penyebab dari penyimpangan. Adapun teori yang
dirumuskan adalah:
1.
Teori Anomie (Robert K. Merton): Teori ini menganggap bahwa struktur sosial
menghasilkan tekanan ke arah anomie dan penyimpangan. Singkatnya, individu melakukan
perilaku menyimpang karena desakan keterpaksaan.
2.
Teori Asosiasi Diferensial (Edwin H. Sutherland): Teori ini menganggap seseorang menjadi pelaku
penyimpangan karena bergaul dengan orang-orang yang menyimpang.
3.
Teori Kontrol (Travis Hirschi): Ide utama dari teori ini adalah perilaku
menyimpang merupakan hasil dari kekosongan atau tidak adanya pengendalian
sosial (social control).
4.
Teori Labeling (Edwin M. Lemert): Berdasarkan teori ini, seseorang menjadi pelaku
penyimpangan karena proses labelling (pemberian julukan, cap,
etiket) negatif yang dilekatkan masyarakat kepadanya.
Dampak Perilaku Menyimpang
Maraknya perilaku menyimpang dianggap telah meresahkan masyarakat.
Akibatnya perilaku tersebut ditolak oleh masyarakat dan timbul berbagai dampak
negatif pada individu menyimpang. Adapun dampak negatif yang
terjadi adalah:
1.
Pelaku penyimpangan terkucilkan
2.
Terganggunya perkembangan jiwa pelaku penyimpangan
3.
Rasa bersalah pada pelaku penyimpangan
4.
Perilaku menyimpang yang dapat berwujud tindak kriminalitas
5.
Terganggunya keseimbangan sosial
6.
Pudarnya nilai dan norma yang mengatur masyarakat
Akan tetapi, perilaku menyimpang tidak sepenuhnya bersifat
negatif. Adapun dampak positif dari perilaku menyimpang adalah
sebagai berikut:
1.
Mengklasifikasikan batas-batas moral dan menegakkan norma.
2.
Menguatkan keutuhan kelompok.
3.
Memberikan kesempatan bagi perubahan sosial.
Komentar
Posting Komentar