Pengertian Perang Teluk
Perang Teluk merupakan
sebuah pertempuran yang terjadi di kawasan Teluk Persia. Perang ini disebabkan
oleh adanya perselisihan antar negara yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Dalam perkembangannya, perang ini terjadi sebanyak tiga kali. Pertama adalah
Perang Teluk I yang terjadi pada 1980 hingga 1988 antara Irak dengan Iran.
Kemudian, Perang Teluk II yang terjadi pada 1990 hingga 1991 antara Irak dengan
Kuwait yang dibantu oleh Amerika Serikat. Terakhir adalah Perang Teluk III
antara Irak dengan Amerika Serikat dan koalisinya.
Perang Teluk I
Perang ini
dilatarbelakangi oleh adanya konflik perebutan hegemoni atau pengaruh antara
Irak dan Iran untuk menguasai wilayah Shatt Al-Arab. Wilayah tersebut dianggap
sangat strategis karena terdapat sejumlah pelabuhan yang menjadi jalur utama
perdagangan minyak di Teluk Persia. Selanjutnya, pada 1980 konflik semakin
memanas ketika Iran mengirimkan serangan bom kepada Irak. Hal ini membuat
perdana menteri Irak yaitu Saddam Hussein marah dan mengutuk aksi tersebut.
Peristiwa serangan tersebut berujung pada putusnya hubungan diplomatik antara
Irak dan Iran serta mengakibatkan terjadinya Perang Teluk I.
Perang ini diawali
dengan adanya serangan Iran ke sebuah desa di Irak dan menghancurkan instalasi
minyak Neft Khaneh yang mengakibatnya tewasnya banyaknya penduduk sipil.
Kemudian, perang ini memuncak pada 22 September 1980. Saat itu, Irak memberikan
serangan balasan kepada Iran dengan melakukan penyerangan ke gudang senjata dan
pelabuhan serta menduduki Pulau Tumb Besar dan Tumb Kecil. Berbagai serangan
pun terus terjadi, bahkan Irak juga menghancurkan sumur minyak Nowruzz pada
1983 yang mengakibatkan pencemaran air sehingga membuat terjadinya kelangkaan
air minum di wilayah Timur Tengah.
Pada 1988, Irak
menggaungkan Al-Anfal Campaign yang dipimpin oleh Ali Hassan
Al-Majid. Dia merupakan sepupu dari Saddam Hussein. Tujuan dari kampanye ini
adalah untuk menyerang dan menghancurkan gerakan separatisme Kaum Kurdi. Mereka
diduga telah membela Iran selama berlangsungnya Perang Teluk. Serangan tersebut
dilakukan dengan menggunakan senjata kimia sehingga mengakibatnya 50.000 hingga
182.000 korban tewas.
Perang Teluk I ternyata
membawa kerugian bagi kedua negara. Terlebih ada negara yang muncul sebagai
pemenang pertempuran. Selain itu, dunia internasional pun melakukan kecaman
terhadap perang tersebut. Mereka mendesak agar Irak dan Iran segera
menghentikan konflik. Saat itu juga dikeluarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No.
598 Tahun 1988 yang memaksa kedua negara untuk melakukan gencatan
senjata.
Perang Teluk II
Pasca delapan tahun
terlibat perang dengan Iran dalam Perang Teluk I, Irak mengalami krisis ekonomi
akibat kerugian perang yang sangat besar. Untuk mengatasi masalah tersebut,
maka Saddam Hussein pun membutuhkan petrodollar sebagai pemasukan negara.
Namun, harga petrodollar saat itu sedang mengalami penurunan karena adanya
kelebihan pasokan minyak dunia dari Uni Emirat Arab dan Kuwait. Saddam Hussein
pun menuduh bahwa Kuwait telah mencuri cadangan minyak mentah di Ar-Rumaylah.
Kemudian, pemimpin Irak itu juga memperkeruh konflik demi melancarkan ambisinya
sebagai seorang pemimpin tunggal untuk seluruh wilayah Timur Tengah.
Konflik pun terus
berlanjut hingga 1990. Saat itu, Irak mengirimkan pasukannya untuk melakukan
invansi ke Kuwait. Mereka menjalankan strategi blitzkrieg atau
serangan kilat. Melalui strategi tersebut, Irak berhasil untuk menguasai
wilayah Kuwait hanya dalam waktu satu hari. Setelah jatuh, negara tersebut
dijadikan Irak sebagai provinsi kesembilan belas dengan nama Saddamiyat
Al-Mitla. Akibat invansi tersebut, PBB pun memutuskan untuk melakukan embargo
ekonomi terhadap Irak.
Selanjutnya, Kuwait
meminta bantuan Amerika Serikat untuk melakukan serangan terhadap Irak. Kuwait
juga mendapatkan bantuan pasukan dari sejumlah negara Eropa, Asia, maupun
Afrika. Pasukan multinasional ini dipimpin oleh Jenderal Norman Schwarzkopf dan
Jenderal Colin Powell. Di sisi lain, Saddam Hussein pun juga menjalin kerja
sama dengan dunia Islam serta bersekutu dengan para pejuang Palestina untuk
melawan koalisi dunia barat.
Berbagai upaya
perdamaian terus dilakukan untuk mencegah terjadinya pertempuran. Salah satu
upaya yang ditempuh adalah melalui misi diplomatik Arab Saudi untuk
mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik. Hasilnya, Irak tetap menolak untuk
melakukan penarikan pasukannya di Kuwait. Hal ini pun mengakibatnya dimulainya
Perang Teluk II.
Pada 17 Januari 1991,
Amerika Serikat melancarkan operasi badai gurun untuk menyerang Irak. Operasi
tersebut bertujuan untuk mematahkan pertahanan udara Irak, menyerang pusat
komando dan komunikasi Saddam Hussein, serta menghancurkan instalasi rudal
jelajah. Untuk menghadapi serangan tersebut, maka Irak melancarkan serangan ke
Israel dan Arab Saudi dengan meluncurkan Rudal Scud-B Al Hussein. Selain itu,
Irak juga melakukan aksi perang lingkungan dengan membakar sumur minyak milik
Kuwait dan menumpahkan minyak ke Teluk Persia.
Berbagai serangan yang
dilakukan oleh Amerika Serikat, ternyata membuat posisi Irak semakin lemah.
Akhirnya pada 28 Februari 1991 presiden Amerika Serikat yaitu Goergo Bush
mengumumkan gencatan senjata untuk mengakhiri perang. Irak pun terpaksa harus
tunduk pada perjanjian perdamaian, mengakui kedaulatan Kuwait, serta
menghancurkan senjata pemusnah massal.
Perang Teluk III
Pada 2002 Goerge Bush
mencurigai bahwa Irak masih memiliki senjata pemusnah massal. Tuduhan itu
dibantah oleh Saddam Hussein, bahkan ia menyatakan bahwa Irak siap untuk
diperiksa pada awal tahun 2003. Bantahan dari Irak tersebut tidak dipercaya
begitu saja, bahkan Amerika Serikat dan Inggris justru menuduh Irak menghindari
inspeksi pemeriksaan yang dilakukan oleh PBB. Kemudian, hal ini berujung pada
pemutusan hubungan diplomatik antar kedua negara.
Pada 19 Maret 2003,
Amerika Serikat melakukan invansi pertamanya ke Irak. Dalam serangannya ini,
Amerika Serikat menjalin kerja sama militer dengan sejumlah negara antara lain
Inggris, Polandia, dan Australia. Pasukan gabungan tersebut ternyata berhasil
menumbangkan Saddam Hussein. Meskipun demikian, perang masih terus dilanjutkan
oleh para kelompok pemberontak Irak hingga 2011. Setelah perang tersebut
selesai, PBB melakukan investigasi yang menghasilkan beberapa hal. Pertama,
tuduhan bahwa Irak masih menyimpan senjata pemusnah massal itu tidak benar.
Kedua, serangan Amerika Serikat ke Irak ternyata hanya bertujuan untuk
menguasai perdagangan minyak di Timur Tengah.
Berakhirnya Perang Teluk
III, tentu berdampak pada banyak hal. Saat itu, Irak mengalami kerugian yang
sangat besar karena banyak wilayahnya yang hancur. Kerugian tersebut juga
dialami oleh masing-masing negara yang terlibat perang, bahkan jumlahnya
ditaksir mencapai 500 juta dollar AS. Selain itu, perang teluk juga telah
menghambat pembangunan ekonomi bagi wilayah Irak dan Iran karena adanya
kerusakan ladang minyak di sejumlah tempat. Perang ini juga mengakibatkan
meluasnya pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah serta perdamaian di wilayah
tersebut menjadi terganggu.
Komentar
Posting Komentar