Definisi
Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah gerak
perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya. Sedangkan
menurut Michael S. Basis, mobilitas sosial adalah perpindahan ke
atas atau ke bawah lingkungan sosio ekonomi yang mengubah status sosial
seseorang dalam masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa mobilitas sosial adalah
perpindahan posisi seseorang atau kelompok dari lapisan satu ke lapisan yang
lainnya atau perpindahan status atau strata sosial seseorang dari lapisan yang
satu ke lapisan yang lainnya.
Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
1. Mobilitas Horizontal, perpindahan individu atau kelompok dari suatu kedudukan sosial
ke kedudukan sosial lainnya yang sederajat. Pada mobilitas horizontal tidak
terjadi perubahan status sosial.
2. Mobilitas Vertikal, perpindahan individu atau objek sosial dari suatu kedudukan
sosial tertentu ke kedudukan sosial lain yang tidak sederajat. Di dalam
mobilitas vertikal terdapat 2 jenis mobilitas sosial, yaitu mobilitas sosial
vertikal naik dan mobilitas sosial vertikal turun.
- Mobilitas Vertikal Naik (social
climbing), perpindahan status sosial
seseorang ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Contoh:
Seorang karyawan yang mendapatkan promosi jabatan menjadi manajer.
- Mobilitas Vertikal Turun (social
sinking), perpindahan status sosial
seseorang ke tingkat yang lebih rendah dari sebelumnya. Contoh: Seorang
pengusaha sukses yang terpaksa gulung tikar karena terlilit utang.
3. Mobilitas Sosial Antargenerasi, Mobilitas antargenerasi adalah mobilitas yang
terjadi antara dua generasi atau lebih. Perkembangan di mobilitas antargenerasi
ini ditekankan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi
lainnya. Mobilitas antargenerasi ini dapat berupa mobilitas antargenerasi naik
ataupun mobilitas antargenerasi turun. Contoh Mobilitas antargenerasi dapat
dilihat dari bagan di bawah ini:
Dari bagan sebelah kiri, menunjukkan mobilitas sosial
antargenerasi naik karena terjadi kenaikan status sosial dari generasi kakek
yang mulanya seorang penjaga sekolah hingga ke generasi cucu yang menjadi
kepala sekolah. Sedangkan di bagan sebelah kanan, menunjukkan mobilitas
antargenerasi turun karena terjadi penurunan status sosial dari generasi kakek
yang seorang Jendral TNI hingga generasi cucu yang menjadi pengangguran.
4. Mobilitas Intragenerasi, mobilitas yang terjadi di dalam satu kelompok generasi yang
sama. Mobilitas intragenerasi dapat ditandai dengan adanya kenaikan atau
penurunan status. Contohnya seperti di bagan bawah ini, status sosial anak
ketiga lebih tinggi dibandingkan dengan kedua kakak dan orangtuanya.
5. Mobilitas Sosial Geografis, mobilitas geografis juga disebut sebagai mobilitas lateral
adalah perpindahan individu atau kelompok dari suatu daerah ke daerah lainnya
yang secara tidak langsung mengubah status sosialnya. Mobilitas sosial
geografis dapat terjadi melalui transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi.
Faktor Pendorong Mobilitas Sosial
1.
Status Sosial,
pada sistem masyarakat yang terbuka, setiap individu memiliki peluang untuk
melakukan mobilitas sosial antarkelas. Namun pada masyarakat yang sistemnya
tertutup, peluang untuk melakukan mobilitas sosial individu sangat terbatas dan
lambat.
2.
Keadaan Ekonomi, setiap individu memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda dan
setiap individu selalu berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan keadaan
ekonominya menjadi lebih baik. Dorongan untuk memperbaiki keadaan ekonomi ini
menjadi pendorong mobilitas sosial.
3.
Pertumbuhan Penduduk, pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan penyediaan
kebutuhan menjadi beban masyarakat dan tingkat kesejahteraan menjadi berkurang.
Hal tersebut dapat mendorong mobilitas horizontal dan mobilitas sosial
geografis ketika terdapat penduduk yang melakukan mobilitas ke wilayah lain
yang dianggap lebih menguntungkan.
4.
Situasi Politik, situasi politik yang stabil di suatu negara memberikan
kesempatan kepada penduduknya untuk melakukan mobilitas sosial vertikal ataupun
horizontal. Namun jika kondisi politik di suatu negara tidak stabil dapat
memungkinkan terjadinya penurunan strata sosial penduduk karena mengungsi atau
pindah sementara waktu ke negara yang situasi politiknya lebih stabil dan
aman.
Faktor Penghambat Mobilitas Sosial
1.
Diskriminasi Ras dan Agama, diskriminasi atau perlakuan berbeda terhadap ras
atau agama tertentu dapat menimbulkan perbedaan status sosial. Diskriminasi ini
akan menghambat mobilitas sosial karena akses untuk suatu kelompok masyarakat
dalam berbagai bidang cenderung dibatasi.
2.
Diskriminasi Kelas, diskriminasi kelas dapat menghambat jalannya mobilitas sosial.
Contohnya, pada masa penjajahan Belanda, sekolah formal hanya untuk anak-anak
keturunan Belanda, warga asing, dan kaum bangsawan pribumi, sedangkan untuk
anak-anak dari kalangan rakyat biasa tidak boleh masuk ke sekolah formal dan
berakhir tidak mendapatkan akses pendidikan.
3.
Pengaruh Sosialisasi Kelas Sosial, sosialisasi merupakan suatu proses ketika
seorang anak belajar berpartisipasi menjadi anggota masyarakat. Kelas sosial
dari seseorang dapat menjadi tempat bagi individu untuk berkembang dan
mengalami proses sosialisasi, hal tersebut menjadi pembatas mobilitas vertikal
ke atas. Misalnya, anak-anak yang berasal dari kalangan kelas ekonomi rendah
cenderung hidup dalam lingkungan, nilai dan pola pikir yang umumnya ada di
dalam masyarakat kelas rendah. Pengaruh sosialisasi yang kuat dari lingkungan
tersebut cenderung mempengaruhi anak untuk hidup dengan pola pikir masyarakat
yang berkembang di lingkungannya.
4.
Kemiskinan, kemiskinan dapat membatasi peluang seseorang untuk berkembang dan
mencapai status sosial tertentu.
Cara Melakukan Mobilitas Sosial
1.
Perubahan Standar Hidup, kenaikan penghasilan seseorang dapat meningkatkan standar atau
taraf hidup seseorang secara ekonomi. Hal tersebut akan mempengaruhi status
sosialnya menjadi meningkat.
2.
Perubahan Tempat Tinggal, perubahan tempat tinggal atau perpindahan tempat tinggal dapat
meningkatkan status sosial jika seseorang berpindah ke tempat yang lebih baik
dengan didukung fasilitas-fasilitas yang lebih baik juga.
3.
Perubahan Tingkah Laku, untuk mendapatkan status sosial yang lebih tinggi, setiap individu
berusaha untuk menaikkan status sosialnya dengan mempraktekkan bentuk-bentuk
tingkah laku dari kelas sosial yang lebih tinggi. Selain perubahan tingkah
laku, perubahan tersebut juga meliputi cara berpakaian, cara bicara dan
kegemaran.
4.
Pernikahan, peningkatan status sosial seseorang dapat dilakukan dengan cara
menikah. Contoh: seseorang dari keluarga sederhana menikah dengan orang dari
keluarga kaya dan terpandang. Dari pernikahan tersebut dapat menaikkan status
sosial.
5.
Bergabung dengan organisasi tertentu, seseorang dapat meningkatkan status sosialnya
dengan cara bergabung di dalam organisasi tertentu. Contoh: organisasi profesi,
partai politik, dan organisasi ekonomi.
Saluran Mobilitas Sosial
Menurut Pitirim A. Sorokin, di dalam mobilitas sosial terutama
untuk mobilitas sosial vertikal ke atas, terdapat saluran-saluran tertentu di
dalam masyarakat. Saluran-saluran tersebut disebut dengan sirkulasi
sosial (social circulation), saluran-saluran mobilitas sebagai
berikut:
1.
Angkatan Bersenjata, organisasi angkatan bersenjata dapat digunakan sebagai saluran
mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan-tahapan kenaikan pangkat.
2.
Lembaga Keagamaan, agama dianggap sebagai lembaga yang luhur dan penting di dalam
kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang menjadi pemuka agama sangat dihormati
meskipun status sosial yang dimilikinya tidak tinggi.
3.
Lembaga Pendidikan, lembaga pendidikan sekolah menjadi saluran yang nyata untuk
melakukan mobilitas vertikal ke atas. Sekolah menjadi saluran mobilitas yang
penting karena dapat dimasuki berbagai kelas sosial di masyarakat. Lembaga
pendidikan juga disebut-sebut sebagai social elevator, yang
artinya lembaga pendidikan dapat menjadi saluran mobilitas yang bisa mengangkat
seseorang dari kedudukan rendah ke kedudukan yang lebih tinggi.
4.
Organisasi Politik, organisasi politik dapat menjadi saluran mobilitas sosial bagi
para anggota-anggotanya. Seorang anggota dari suatu partai politik, memiliki
peluang untuk mendapatkan kedudukan di dalam partainya. Bahkan seseorang
memiliki peluang untuk menjadi anggota DPR sebagai calon dari partai
tersebut.
5.
Organisasi Ekonomi, organisasi ekonomi memiliki peranan penting sebagai saluran gerak
mobilitas sosial vertikal ke atas. Seseorang dapat menaikkan status sosialnya
jika berhasil menjadi pengusaha yang sukses atau memiliki jabatan di organisasi
ekonomi pemerintah.
6.
Organisasi Keahlian, organisasi keahlian dapat menjadi wadah bagi orang-orang yang
memiliki keahlian tertentu. Melalui keanggotaan organisasi keahlian tersebut,
seseorang dapat meningkatkan status sosialnya di masyarakat. Contoh: IDI, PGRI,
dan IAI.
7.
Perkawinan, sebuah perkawinan dapat menjadi saluran mobilitas bagi seseorang
yang menikah dengan orang yang memiliki status sosial yang terpandang dan
dihormati. Contoh: pernikahan pangeran Inggris, yaitu Pangeran William dengan
Kate Middleton, yang seorang gadis dari kalangan rakyat biasa.
Dampak Mobilitas Sosial
Dampak Positif Mobilitas Sosial:
1.
Memotivasi Seseorang untuk Menjadi Lebih Maju, seseorang akan termotivasi dan berusaha untuk
menjadi lebih maju dan berprestasi karena memiliki kesempatan untuk melakukan
perpindahan status sosial ke tingkat yang lebih tinggi. Kesempatan ini
mendorong seseorang untuk bersaing dan bekerja keras agar mencapai status
sosial yang tinggi.
2.
Mempercepat Perubahan Sosial, melalui mobilitas sosial seseorang merasa lebih
termotivasi untuk melakukan perubahan diri sehingga akan mendorong perubahan
sosial. Contoh: terjadinya perubahan sosial di Indonesia, yang dari mulanya
masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Perubahan tersebut akan terjadi
lebih cepat dan menyeluruh jika sumber daya manusia berkualitas baik.
Dampak Negatif Mobilitas Sosial:
1.
Menimbulkan Kecemasan dan Ketegangan, seseorang yang mengalami penurunan kelas sosial
akan mengalami kecemasan, karena berbagai macam kemudahan yang dulu dinikmati
sekarang tidak bisa lagi dimiliki. Sedangkan seseorang yang mengalami kenaikan
status sosial dapat mengalami ketegangan karena harus mampu menyesuaikan diri
dengan tuntutan jabatan atau status sosial yang lebih tinggi dari
sebelumnya.
2.
Merenggangnya Hubungan, hubungan antarindividu di dalam suatu kelompok dapat merenggang
atau bahkan retak karena salah satu anggota kelompok mengalami perpindahan
kelas sosial yang lebih rendah atau tinggi.
3.
Menimbulkan Pertentangan atau Konflik Antarpribadi, pertentangan antarindividu terjadi karena
adanya perbedaan persepsi terhadap suatu hal. Contoh: seseorang yang mengalami
mobilitas sosial vertikal ke atas dapat menunjukkan perilaku yang berbeda
dengan anggota kelompok yang tidak mengalami mobilitas sosial vertikal.
Perilaku berbeda ini dapat menimbulkan pertentangan antarindividu.
4.
Menimbulkan Konflik Antarkelas, di dalam masyarakat terdapat berbagai
lapisan-lapisan sosial karena adanya ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan
pendidikan. Jika di dalam mobilitas sosial terjadi perbedaan kepentingan
antarkelas sosial, maka akan memicu munculnya konflik antarkelas.
5.
Menimbulkan Konflik Antarkelompok, di dalam masyarakat terdapat berbagai macam
kelompok sosial, misalnya kelompok sosial yang didasarkan oleh ideologi,
profesi, agama, suku, dan ras. Apabila salah satu kelompok berusaha menguasai
kelompok lain, maka akan timbul konflik.
6.
Menimbulkan Konflik Antargenerasi, konflik antargenerasi umumnya terjadi antara
generasi tua yang selalu mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi muda yang
ingin mengadakan perubahan.
Komentar
Posting Komentar