Rencana Aksi Kegiatan Siswa Madrasah Sebagai
Pelopor Moderasi Beragama, Inisiator Pada Masa Bonus Demografi, Dengan Memanfaatkan
Revolusi Teknologi
Oleh: Moh Suma Firman R – MAN 3 Tulungagung
Perubahan dunia secara global kini tengah
memasuki fase yang disebut dengan istilah revolusi industri 4.0. Era ini datang
dan menuntut generasi muda untuk bepikir kreatif dan inovatif dalam segala
aspek kehidupan terutama dalam hal penguasaan teknologi. Yang akan bergerak
dinamis dan terus menghadirkan banyak perubahan yang tidak bisa dibendung. Dalam
hal ini siswa madrasah patutnya menjadi panutan dan harapan masa depan bangsa
yang mampu menempatkan Indonesia pada posisi yang tepat sesuai perubahan yang
ada, dengan konsep moderasi beragama.
Berdasar data siaran pers Bappenas (2017)
penduduk Indonesia akan mencapai masa bonus demografi pada tahun 2030 mendatang, yakni penduduk
usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total proyeksi penduduk Indonesia
sebesar 297 juta jiwa. Berdasarkan
survei The Mc Kinsey Global Institute, Indonesia diprediksi pada 2035 akan
menempati peringkat ke-7 ekonomi dunia, setelah China, Amerika Serikat, India,
Jepang, Brazil, dan Rusia. Perekonomian Indonesia akan ditopang oleh empat
sektor utama, yaitu bidang jasa, pertanian, perikanan, serta energi. Lahirnya
kalangan muda yang produktif, professional, memiliki skill dan knowledge
yang mumpuni serta critical system thinking yang bagus,
sangat diperlukan. Apalagi, kelompok milenial Indonesia dikenal sangat akrab
dengan media sosial dan juga sangat kreatif.
Dari data tersebut disimpulkan aspek
peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) patutnya menjadi master of
priority supaya Indonesia dapat meraih cita-cita untuk menjadi negara maju
Indonesia emas 2045. Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus
demografi, yaitu terciptanya generasi muda unggul, kompetitif, hebat,
bermartabat dan jauh dari korupsi melalui ranah pendidikan intelektual dan
spiritual di madrasah.
Dari latar belakang tesebut, maka rumusan
masalah yang dibahas adalah bagaimana konsep rencana aksi kegiatan siswa
madrasah sebagai pelopor moderasi beragama, inisiator pada masa bonus demografi,
dengan memanfaatkan revolusi teknologi.
Siswa Madrasah Sebagai Pelopor Moderasi
Beragama Sesuai Dengan Nilai-nilai Al-Qur’an
Ada tiga pilar moderasi beragama yang harus ditegakkan seluruh
elemen bangsa dalam rangka mewujudkan kehidupan beragama yang sesuai dengan
nilai-nilai Al-Qur’an dan sunah. Moderasi beragama tersebut adalah
moderasi dalam pemikiran, gerakan, dan perbuatan. Moderasi pemikiran
adalah langkah yang dilakukan dengan memadukan teks dan konteks. Moderasi
gerakan yakni siswa madrasah melakukan
kebaikan dengan cara yang baik dan santun.
Moderasi perbuatan yakni penguatan relasi antara praktik agama, tradisi, dan
kebudayaan masyarakat setempat yang bisa dibudidayakan dalam pendidikan di madrasah. Agama tidak dihadapkan secara diametral dengan budaya, tapi
saling terbuka membangun dialog untuk kebudayaan baru dan mewujudkan persatuan.
Moderasi beragama harusnya sudah mendarah
daging menjadi budaya dan kebiasaan bangsa Indonesia dengan segala keberagaman
aspek kehidupan. Dengan moderasi beragama, kita bisa lebih mudah beradaptasi
terhadap perubahan sosial dan teknologi, untuk kemudian meningkatkan potensi
yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Salah satu contoh moderasi dalam kelas
adalah kegiatan berpikir kritis dan moderat, mencari titik temu antara dalil
Al-Qur’an Hadist dan Sains. Bonus demografi adalah contoh perubahan sosial yang
nyata, dan dalam waktu dekat ini Indonesia akan mengalami puncaknya. Dengan
penduduk produktif yang lebih besar daripada penduduk nonproduktif, bonus
demografi bisa menjadi ancaman dan bisa menjadi peluang bagi bangsa Indonesia.
Siswa madrasah harus memiliki terobosan-terobosan untuk bisa membuat Indonesia
berhasil melewati momentum bonus demografi, terobosan atau inovasi baik dalam
hal kebiasaan positif atau penguasaan teknologi.
Penerapan dan Rencana Aksi Kegiatan Siswa
Madrasah Sebagai Inisiator Pada Masa Bonus Demografi
Sebagai Duta GenRe, yang fokus terhadap
pembangunan sumber daya manusia terutama pembangunan ketahanan remaja, sampai
saat ini saya tetap aktif mensosialisasikan tentang bonus demografi dan
aktifitas produktif yang bisa dilakukan oleh generasi muda. Pendewasaan usia
perkawinan, peningkatan keterampilan hidup, dan penyiapan kehidupan
berkeluarga, adalah sebagian program yang selama ini saya dengungkan, guna
mencapai keberhasilan dalam menghadapi bonus demografi dengan pemikiran dan
tindakan yang moderat. Harapan akhir dari keberhasilan bonus demografi adalah
kesejahteraan pada seluruh masyarakat pada masa aging society (masa
setelah bonus demografi).
Salah satu contoh aktifitas positif yang saya
lakukan untuk meningkatkan kualitas diri adalah dengan membaca buku. Mungkin saat
ini membaca buku menjadi hal yang membosankan bagi kalangan muda. Namun
membiasakan membaca buku harus tetap dilakukan, karena didalamnya kita bisa
mendapat berbagai informasi terkait perkembangan sosial dan teknologi. Saya
sadar anak muda masa kini hanya sedikit yang mau membaca buku, apalagi buku
ilmu pengetahuan. Karenanya saya memaksakan diri untuk membiasakan membaca
buku, kemudian isi dari apa yang saya baca, saya implementasikan dalam bentuk
visual atau audio, supaya lebih menarik dan lebih mudah mendapat minat anak
muda, ini adalah bagian dari pemanfaatan revolusi teknologi yang semakin kesini
semakin canggih.
Penguasaan teknologi oleh siswa madrasah harus
dioptimalkan. Karena, gagap serta un-uptudate teknologi dan informasi
akan bisa merusak generasi muda, terjerumus kepada isu-isu yang melenceng dari
kaidah agama. Dewasa kini, acap kali isu radikalisme menjadi headline di
berbagai media sosial, tidak sedikit anak muda yang tertarik dengan
konten-konten yang bertajuk semangat pembelaan terhadap agama. Namun,
penyampaian yang tidak sesuai dan kegagal pahaman oleh pembaca, akan
memunculkan jalan pikir baru yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang
sesungguhnya. Di sinilah peran siswa madrasah untuk menangkal hal tersebut
dengan menguasai dan mengambil alih dunia internet, dengan edukasi dan
informasi yang positif, membangun, dan sesuai ajaran agama islam.
Sebagai seorang ketua OSIS di madrasah, saya
juga harus mencontohkan kepada sesama teman dan seluruh siswa madrasah dengan perilaku,
kegiatan, dan pemikiran yang moderat dan positif. Pelatihan life skill
atau keterampilan hidup, juga sering saya lakukan bersama rekan organisasi dan
ekstrakurikuler. Tidak jarang juga saya memberikan pelatihan life skill
kepada OSIS MTs mitra organisasi. Saya sering menyampaikan bahwa kemampuan leadership
sebagai siswa madrasah sangat penting, karena esensinya setelah melanjutkan
pendidikan kita akan kembali kepada masyarakat. Peran lulusan madrasah dari
segi intelektual dan spiritual harus dimaksimalkan dan harus menjadi pemimpin
untuk kemaslahatan umat.
Berdasarkan pembahasan dan cerita pengalaman
di atas dapat dimuat kesimpulan sebagai berikut:
Rencana
aksi kegiatan siswa madrasah sebagai pelopor moderasi beragama berdasarkan
Al-Qur’an dan As-sunnah, siswa madrasah menjadi inisiator pembangunan sumberdaya
manusia pada masa bonus demografi, dengan memanfaatkan revolusi teknologi. Adalah
solusi sekaligus harapan masa depan bangsa Indonesia dalam menjalankan
kehidupan bernegara dalam aspek budaya, ideologi, dan pembangunan. Pemanfaatan
teknologi seperti penggunan internet of things hasil dari revolusi
industri 4.0 secara cerdas dan tepat sasaran, untuk syiar ajaran islam yang
moderat pun untuk meluruskan konten-konten radikalisme yang selama ini tersebar
di kalangan anak muda. Memberikan pendidikan karakter untuk malatih life
skill kepada siswa madrasah yang akan berguna untuk peran dalam kehidupan
bermasyarakat.
Adapun saran yang disampaikan melalui tulisan
konsep rencana aksi kegiatan ini adalah:
Pentingnya pemerintah menyediakan ruang bagi
generasi muda utamanya pelajar siswa madrasah yang ingin berdedikasi tinggi
untuk mengeluarkan gagasan visioner dan solutif guna berkontribusi membangun
ekosistem generasi muda untuk Indonesia maju. Pemerintah harus mengeluarkan
kebijakan untuk mendorong program pembangunan sumber daya manusia dan
pengembangan teknologi dengan sistem youthful participant atau mengikut
sertakan peran anak muda sebagai subjek program pembangunan SDM dan
pengembangan teknologi secara tepat sasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Bappenas.go.id, (2017, 22/5). Bonus Demografi
2030-2040: Strategi Indonesia Terkait Ketenagakerjaan Dan Pendidikan. Diperoleh
2 Mei 2021, dari https://www.bappenas.go.id/files/9215/0397/6050/Siaran_Pers__Peer_Learning_and_Knowledge_Sharing_Workshop.pdf.
Nu.or.id, (2019, 24/11) Mengarusutamakan Moderasi Beragama Saat Bonus Demografi.
Diperoleh 2 Mei 2021 https://www.nu.or.id/post/read/113861/mengarusutamakan-moderasi-beragama-saat-bonus-demografi-tiba.
Ppim.uinjkt.ac.id, (2020, 3/7) Generasi Milenial Harus Berdakwah di
Media Sosial. Diperolah 2 Mei 2021 https://ppim.uinjkt.ac.id/2020/07/17/generasi-milenial-harus-berdakwah-di-media-sosial/
Firman, Moh Suma. 2020. Penggunaan Digital Market Place Sebagai Bentuk
Revolusi Industri 4.0 Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Untuk Push
Selling di Masa Pandemi Covid-19. Karya Tulis Ilmiah. Tidak Diterbitkan.
Alwi, Hasan, dkk. (Ed). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Komentar
Posting Komentar