SINOPSIS NOVEL DURGA UMAYI KARYA Y.B. MANGUN WIJAYA\
Durga Umayi adalah sebuah novel yang bercerita tentang hidup
seorang wanita bernama Iin Sulinda yang kemudian menjadi Iin Sulinda Pertiwi
Nusamusbida Charlotte Eugenie de Progueleaux nee du Bois de la Montagne Angelin
Ruth Portier Tukinah Senik. Ia biasa dipanggil dengan Nyonya Nusamusbida, Iin
atau Linda atau Tiwi atau Madame Nussy, Bik Ci atau Tante Wi. Tergantung
situasi dan suasana. Ia adalah anak penjual gethuk-cothot di dekat
Kelenteng Cina di sudut alun-alun. Dia dianugerahi oleh Tuhan sang pencipta
berupa paras cantik rupawan, kekar seperti indo (anak pasangan
Belanda dan pribumi) dibanding dengan abang kembar-dampitnya(kembar laki-laki
dan perempuan) yang bernama Kang Brojol yang berbeda fisiknya, meskipun dia
mempunyai hidung yang sama persis dengan Iin, hidung petruk menurut istri
Brojol.
Iin Sulinda lahir sebagai putri bungsu dari pasangan Obrus, seorang
eks Kopral KNIL dan Heiho zaman Jepang dan gerilyawan zaman revolusi bersenjata
dulu, dan Legimah, seorang penjual gethuk cothot di depan Klenteng
dekat alun-alun. Iin tumbuh sebagai gadis cantik yang sering dikagumi para
pemuda setempat, di mana pun beradanya. Kehidupan yang dijalaninya itu
berlangsung dari sejak zaman Belanda sampai zaman Orde Baru.
Sebenarnya, Iin Sulinda dikenal sebagai call girl di
kalangan diplomat dan negarawan dunia, pengusaha papan atas, dan sudah tentu
para jenderal berbintang. Semua itu dilakukannya dengan dalih tugas negara demi
lancarnya diplomasi-diplomasi, lobi-lobi penting tingkat internasional.
Kelakuannya ini sering semata-mata untuk melihat bagaimana banyak laki-laki
yang konon tokoh-tokoh gagah, agung, serba mentereng di depan publik, nyatanya
tak berdaya oleh seorang wanita di atas ranjang.
Iin adalah korban laki-laki. Hal ini dialaminya sedari kecil.
Terasa sekali bagaimana kakak laki-lakinya begitu bebas keluar, main ke mana
saja tanpa beban, sedangkan dirinya, Iin cuma pelampiasan kesal sang kakak.
Misalnya saja Iin lah yang menjahit baju dan celana kakaknya yang sobek, atau
Iin lah yang ditendang kakaknya ketika sedang datang kesal.
Selama hidupnya, Iin membantu mencuci dan menyeterika busana oleh
para kalangan tinggi yang selalu berpakaian necis dan rapi. Namun, hatinya
terpesona oleh seorang pemuda yang biasa-biasa saja yang dalam cerita pemuda
tersebut sukanya memakai baju berkantong dobel dan
bercelana short gaya pandu hijau sirih, bersenapan kayu, kepala
gundul berpeci beledu. Pada suatu ketika dalam cerita tersebut terjadi
pertempuran melawan NICA, sedangkan tempat kang Brojol abang kembar dampitnya
berada pada persimpangan jalan yang strategis sebagai dapur umum tetapi juga
markas pengaturan siasat tempur. Melihat situasi itu Iin mengirim surat lewat
seorang pejuang TKR yang berkesatriaan di benteng bekas VOC di muka istana,
untuk sementara waktu dia harus berada di desa, menolong abang kembar dampitnya.
Dalam cerita tersebut, Iin melakukan perjuangan dengan memenggal
kepala seorang perwira Gurka dan meletakkan kepala tersebut di meja panglima.
Sejak peristiwa itu Iin tidak bisa tidur tenang, paginya dengan dalih mau
mandi di sungai, Iin menghilang dari pasukan. Namun, ia kepergok suatu patroli
pasukan anjing NICA yang tersohor buasnya. Iin dituduh sebagai komunis
subversive teroris, kemudian dianiaya dengan sadis yaitu disetrum,
dijepit, ditelanjangi dan diperkosa.
Setelah peristiwa itu, ia putus asa dan tidak ada yang
memperhatikannya sebagai gadis yang bukan gadis lagi. Terbitlah Iin
menjadi call girl bereputasi
Internasional di Jakarta. Kehidupan Iin berubah, kini orang-orang
memanggilnya Madame Nussy yang hidupnya
serba glamour, Nussy sering berpindah-pindah tempat dari Negara satu
ke negara yang lain hanya sekedar makan siang ataupun sarapan, sampai akhirnya
ia bertemu dengan pelukis muda dari bali bernama Rohadi, kembali pula ia jatuh
cinta pada pelukis tersebut, di tengah-tengah perjumpaannya dengan Rohadi ia
bertemu kembali dengan pemuda bersenapan kayu berkepala gundul berpeci beledu,
dalam pertemuan itu ia menemukan tiga buah paspor diplomatik palsu dengan tiga
macam pasfoto, terbanglah ia ke singapura maka tepat pada tanggal 11 Maret
1966, maka Iin Sulinda Pertiwi menjadi nyonya Angelin Ruth Portier.
Rohadi kembali ditemui oleh Iin yang ternyata telah tertangkap oleh
petugas dan yang sudah masuk penjara Wirogunan dan konon sudah diamankan ke
Nusa Kambangan karena terjerumus dalam anggota Lekra. Iin kembali teringat
dengan abang kembar-dampitnya, maka ia segera menuju ke Solo tempat Bang Brojol
tinggal tapi alangkah terkejutnya Iin ketika abangnya tidak ia ketemukan, Ia
baru menyadari tempat tinggal abangnya telah dijadikan proyek kebanggaan yang
telah Madame Nussy tanda tangani tanpa melihat dalam peta lokasi proyek.
Perjalanan waktu terus berputar, perjumpaannya dengan Kang Brojol
membuat Iin sedih karena sama sekali kembardampitnya tidak mengenali siapa
dirinya, penyesalan tetap menyelimuti dirinya dengan keadaan kampung yang telah
digusur akibat proyeknya, sebelum ia meninggalkan daerah tersebut ia
menyerahkan uang tujuh belas juta rupiah yang ia serahkan pada mertua Bang
Brojol. Madame Nussy kembali ke Singapura berharap dokter yang dulu
merubahnya kini dapat mengembalikan wujudnya menjadi Iin Linda Pertiwi kembali.
Setelah peristiwa itu terjadi, ia menjadi dirinya sendiri dan
sepulangnya dari singapura ia tertangkap kemudian diinterogasi seorang mayor
intel yang memperlihatkan beberapa foto yang tampak olehnya. Ia sedang memimpin
barisan LEKRA bahkan foto di lapangan terbang Beijing bersama tokoh-tokoh
Komunis. Namun, menurut kebijaksanaan yang berwajib dan berwenang ia
dibebaskan.
SINOPSIS NOVEL
PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWA EL-SAADAWI
Firdaus adalah seorang perempuan yang dipenjara dan divonis hukuman
mati. Ia tidak pernah berbicara dengan siapapun, bahkan dengan sipir penjara
sekalipun. Ia selalu meludahi setiap surat kabar yang terdapat gambar seorang
pejabat laki-laki atau siapapun laki-laki yang ada di surat kabar tersebut.
Banyak yang menduga ia mengenal semua laki-laki itu secara pribadi. Tetapi, ia
sebenarnya tidak mengenal mereka semua yang ada di gambar surat kabar tersebut.
Kehidupan Firdaus sangatlah keras. Sejak ia anak-anak ia harus
bertahan hidup menahan lapar, hanya dia yang hidup diantara banyak
adik-adiknya. Menurutnya, adik-adiknya meninggal seperti anak ayam, meninggal satu
per satu seperti anak ayam. Dan setiap ia harus bekerja ke ladang dengan
membawa pupuk di atas kepalanya atau membuat adonan kue. Pernah suatu kali ia
menanyakan kepada ibunya, bagaimana bisa ia
terlahir tanpa ayah, karena dipandangannya semua wajah laki-laki mirip dengan
ayahnya. Maka ibunya memarahinya dan memukulknya, bahkan ibunya membawa seorang
perempuan yang membawa sebilah pisau untuk memotong secuil daging pada bagian
diantara pahanya.
Firdaus senang ketika ia disuruh untuk ke ladang dengan membawa
pupuk di atas kepalanya, karena ia lebih senang
berada di ladang daripada diam di rumah. Di ladang ia bisa
bermain-main dengan kambing, menaiki kincir
air, dan berenang bersama anak laki-laki di sungai. Ia juga bisa
dikatakan memiliki teman dekat laki-laki bernama Mohammadain. Mohammadain
selalu mengajaknya bermain pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Pada
saat itu, Firdaus kecil tidak mengerti apa yang dilakukan Mohammadain
terhadapnya, sehingga ia hanya merasakan nikmat yang ia tak tahu di bagian mana
rasa itu timbul. Mereka akan bermain sampai matahari
terbenam ketika ayah Mohammadain memanggilnya dan Mohammadain berjanji akan
kembali keesokan harinya. Namun, ibunya tidak
pernah menyuruhnya ke ladang lagi.
Firdaus memiliki seorang paman yang sangat baik kepadanya. Pamannya tidak
pernah memukulnya seperti ayah dan ibunya. Pamannya adalah mahasiswa El-Azhar
di Kairo. Ia pulang ke rumah Firdaus ketika masa liburan. Bahkan ketika orang
tua Firdaus meninggal, pamannya lah yang membawanya ke kairo untuk tinggal
bersamanya dan disekolahkan oleh pamannya. Ketika paman Firdaus sudah menikah,
ia sering memukuli Firdaus dan memutuskan untuk memasukkannya ke dalam sekolah
asrama yang memiliki asrama. Firdaus pun tinggal di asrama dan memiliki teman
bernama Wafeya yang selalu menjadi teman untuk bercerita. Dan ia juga mengenal
nona Iqbal yang sangat baik kepadanya. Bahkan yang mendampingi Firdaus ketika
mendapatkan nilai terbaik pun nona Iqbal bukan pamannya.
Setelah Firdaus tamat sekolah menengah, ia kembali ke rumah
pamannya. Istri pamannya tidak menghendaki ia tinggal bersama mereka, sehingga
mereka memutuskan untuk menikahkan Firdaus dengan Syekh Mahmoud, seorang
saudagar yang usianya sudah mencapai enam puluh tahun. Malang nasib Firdaus, ia
harus menerima nasibnya untuk tinggal bersama duda tua yang memiliki bisul di
bagian muka dan bibirnya yeng menimbulkan bau tidak sedap. Syekh Mahmoud tidak
segan-segan untuk memukul Firdaus jika ia tidak menghabiskan makanannya sampai
tidak ada sisa di piringnya dan memukulinya dengan tongkat ketika ia pergi ke
rumah pamannya hingga keluar darah dari mulut dan hidungnya. Akhirnya Firdaus
pun pergi meninggalkan rumah Syekh Mahmoud.
Ketika Firdaus berhenti di sebuah warung kopi, ia ditolong oleh
pemilik watung itu yang bernama Bayoumi, yang membolehkan ia tinggal di flat
miliknya dan akan dicarikan pekerjaan. Hingga suatu hari, Bayoumi datang
dengan teman-temannya dan memukuli Firdaus serta memperkosanya. Akhirnya,
Firdaus pun melarikan diri dari tempat Bayoumi itu.
Firdaus berjalan sampai pagi, hingga ia tertidur di sebuah bangku
yang menghadap ke Sungai Nil. Ia didatangi oleh sosok perempuan yang bernama
Sharifa. Sharifa mengajaknya ke sebuah apartemen, di sana Firdaus dirubah
dengan didandani oleh Sharifa sehingga terlihat sangat cantik. Sharifa
mendandani Firdaus seperti itu karena Sharifa mempekerjakan Firdaus untuk
menjadi seorang pelacur. Setiap malam ada saja laki-laki yang datang ke
apartemen Firdaus dan dilayani oleh Firdaus. Hingga, suatu hari ia mendengar
Sharifa sedang adu mulut dengan seorang laki-laki yang bernama Fawzi. Fawzi
bermaksud akan membawa dan menikahi Firdaus, tetapi Sharifa menolaknya. Hingga
mereka terdengar saling berkelahi. Namun
kemudian, suara mereka menghilang dan hanya tinggal desah nafas mereka.
Firdaus berjalan pelan-pelan untuk melihat mereka dan yang ia lihat Sharifa
sedang tidur dengan Fawzi tanpa menggunakan sehelai baju. Firdaus pergi dari
tempat Sharifa.
Setelah itu, dengan ijazah sekolah menengah yang ia punya, Firdaus
melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Ia diterima sebagai seorang karyawan
yang bergaji kecil. Namun, ia mampu menyewa sebuah flat untuk
tempatnya tinggal. Di perusahaan itu ia mengenal Ibrahim, mereka menjalin
hubungan dekat bahkan sangat dekat, hingga Firdaus merasa dirinya telah jatuh
cinta kepada Ibrahim. Akan tetapi, ia merasa hancur ketika ia
mendengar bahwa Ibrahim telah bertunangan dengan anak perempuan seorang
direktur. Firdaus semakin membenci laki-laki. Ia merasa dipermainkan dan ia
memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.
Firdaus kembali bekerja sebagai pelacur, pelacur kelas atas lebih tepatnya.
Hal itu dikerjakan oleh Firdaus karena ia tak mau dibayar dengan harga murah, ia selalu meminta upah
yang tinggi. Karena ia kembali bekerja sebagai
pelacur, ia mempunyai sebuah apartemen mewah, sebagai tempat tinggalnya dan
tempat untuk bekerja. hingga suatu hari ada seorang germo mendatanginya dan
memaksa Firdaus untuk ikut dengannya dan bekerja dengannya. Firdaus menolak dan
membuat laki-laki germo itu naik pitam dan mengeluarkan sebuah pisau untuk
membunuh Firdaus, tetapi Firdaus berhasil merebut pisau itu dan menikam leher
germo itu berulang kali. Dan kemudian ia pergi. Di tengah jalan ia bertemu
dengan seorang pangeran yang mau membayarnya mahal, dan Firdaus mengatakan
bahwa ia telah membunuh seorang laki-laki dan akan membunuh setiap laki-laki.
Pangeran itu ketakutan dan lari sambil melaporkannya kepada polisi. Firdaus pun
ditangkap dan divonis hukuman mati karena ia dianggap
sebagai pembunuh yang gila. Firdaus menolak ketika diminta untuk mengajukan
grasi kepada presiden, karena ia beranggapan bahwa dengan vonis hukuman mati
adalah jalan terbaik untuk bebas dari laki-laki.
GAYA DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL DURGA UMAYI KARYA
Y.B. MANGUNWIJAYA DAN NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWA EL-SAADAWI
A. PENDAHULUAN
Sastra dan bahasa merupakan dua bidang yang tidak dapat dipisahkan.
Hubungan antara sastra dengan bahasa bersifat dialektis. Bahasa sebagai sistem
tanda primer dan sastra dianggap sebagai sistem tanda sekunder menurut istilah
Lotman. Bahasa sebagai sistem tanda primer membentuk model dunia bagi
pemakainya, yakni sebagai model yang pada prinsipnya digunakan untuk mewujudkan
konseptual manusia di dalam menafsirkan segala sesuatu baik di dalam maupun di
luar dirinya. Selanjutnya, sastra yang menggunakan media bahasa tergantung pada
sistem primer yang diadakan oleh bahasa. Dengan kata lain, sebuah karya sastra
hanya dapat dipahami melalui bahasa.
Tulisan ini akan menelaah dua novel dalam
sastra Indonesia karya Y.B. Mangunwijaya yang berjudul Durga Umayi dan karya Nawa el-Saadawi yang berjudul Perempuan
di Titik Nol.
Novel Durga
Umayi adalah sebuah roman yang
bercerita tentang hidup seorang wanita bernama Iin Sulinda yang kemudian menjadi Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida Charlotte Eugenie de Progueleaux
nee du Bois de la Montagne Angelin Ruth Portier Tukinah Senik. Ia biasa
dipanggil dengan Nyonya Nusamusbida, Iin atau Linda atau Tiwi atau Madame
Nussy, Bik Ci atau Tante Wi. Tergantung situasi dan suasana.
Iin Sulinda lahir sebagai putri bungsu dari pasangan Obrus, seorang
eks Kopral KNIL dan Heiho zaman Jepang dan gerilyawan zaman revolusi bersenjata
dulu, dan Legimah, seorang penjual gethuk cothot di depan Klenteng.
Iin tumbuh sebagai gadis cantik yang sering dikagumi para pemuda setempat, di
mana pun beradanya. Kehidupan yang dijalaninya itu berlangsung dari sejak zaman
Belanda sampai zaman Orde Baru.
Sebenarnya, Iin Sulinda dikenal sebagai gundik di
kalangan diplomat dan negarawan dunia, pengusaha papan atas, dan sudah tentu
para jenderal berbintang. Semua itu dilakukannya dengan dalih tugas negara demi
lancarnya diplomasi-diplomasi, lobi-lobi penting tingkat internasional.
Kelakuannya ini sering semata-mata untuk melihat bagaimana banyak laki-laki
yang konon tokoh-tokoh gagah, agung, serba mentereng di depan publik, nyatanya
tak berdaya oleh seorang wanita di atas ranjang.
Iin adalah korban laki-laki. Hal ini dialaminya sedari kecil.
Terasa sekali bagaimana kakak laki-lakinya begitu bebas keluar main
ke mana saja tanpa beban, sedangkan dirinya, Iin cuma
pelampiasan kesal sang kakak. Misalnya saja Iin lah yang
menjahit baju dan celana kakaknya yang sobek, atau Iin lah
yang ditendang kakaknya ketika sedang datang kesal.
Sebagai sebuah novel, penulis
memberikan kesan aneh dengan eksperimen-eksperimen kalimat di dalamnya. Bahkan
ada satu kalimat yang sampai mencakup dua halaman dan ini membuat pembaca harus mengulangi
kalimat untuk memahaminya.
Sementara Perempuan di Titik Nol adalah salah satu novel bergaya
Feminisme. Dimana penulis menceritakan bagaimana seorang perempuan seperti
Firdaus bertahan hidup dengan dunianya yang sangat kejam. Perlakuan terhadap
kaum perempuan yang tidak manusiawi sangat jelas terlihat dalam novel ini.
Novel ini menjelaskan bagaimana perlakuan laki-laki terhadap perempuan yang
tidak semestinya. Dan menuntut adanya persamaan gender. Penulis menggambarkan
tokoh Firdaus sebagai tokoh yang sangat menentang adanya kaum laki-laki. Ia
menganggap bahwa laki-laki hanyalah memperbudak perempuan. Menjadi seorang
istri juga dianggap rendah di dalam novel ini, karena kewajiban seorang istri
melayani suami dan mengurusi rumah tangga dilaksanakan tanpa upah sedikitpun. Perempuan di Titik Nol juga menggambarkan bagaimana seorang istri hanya dimanfaatkan dan
diperbudak oleh suaminya. Jika istri melakukan kesalahan maka seorang suami
tidak segan untuk memukul istrinya.
Menurut kami, novel ini sangat bagus untuk kalangan laki-laki maupun perempuan karena
banyak pelajaran yang dapat diambil dari novel ini. Bagaimana perjuangan
seorang perempuan untuk mendapatkan haknya dan bagaimana perlakuan yang
seharusnya tidak diberikan kepada perempuan diberikan oleh laki-laki. Untuk
kaum laki-laki, novel ini memberikan gambaran bagaimana perasaan perempuan jika
disakiti hati dan fisiknya. Begitulah gambaran yang perasaan perempuan yang
diperlakukan kasar oleh laki-laki jelas terlihat dalam tokoh Firdaus. Untuk
kaum perempuan, perjalanan hidup Firdaus adalah sebuah potret kecil bagaimana
harga diri perempuan yang terinjak-injak. Sehingga, perempuan lebih bias
menjaga diri dan kelakuannya agar diakui dan disamakan gendernya dengan
laki-laki, agar kaum laki-laki tidak semaunya sendiri memperlakukan perempuan.
Pada novel ini, penulis menggunakan pilihan
kata dengan gaya bahasa metafora yang umum dan mudah dipahami oleh pembaca.
Pesannya akan langsung tersampaikan tanpa harus mengulangi dan memahami dengan
jeli. Tidak seperti novel Durga Umayi ada satu kalimat yang dituliskan dalam
dua halaman, dalam Perempuan di Titik Nol semua kalimat ditulis dengan
sederhana.
B.
PEMBAHASAN
Analisis stilistika novel Durga Umayi ini dititikberatkan
pada pemilihan diksi, yang meliputi penggunaan leksikal bahasa selain bahasa
Indonesia serta penggunaan istilah tertentu, penggunaan gaya kalimat,
penggunaan majas, dan cara penulisan novel yang terlihat secara lahiriyah.
Sementara pada novel Perempuan di Titik Nol tidak
menitik beratkan pada pemilihan diksi, tapi dititikberatkan pada pesan yang di
sampaikan, dengan penggunaan gaya bahasa metafora yaitu pengungkapan penulis
dengan membedakan dua hal dengan makna yang berbeda. Mengingat novel ini adalah
terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Inggris kemudian diterjemahkan ke bahasa
Indonesia oleh Amir Sutaarga.
1.
Diksi
Diksi dalam novel Durga Umayi beranekaragam. Keanekaragaman
novel Durga Umayi memanfaatan dan memilih
kata bertujuan untuk memperoleh keindahan guna menambah daya ekspresivitas.
Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan kata tersebut tepat dan sesuai.
Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda
antara penulis atau pembicara dengan pembaca atau pendengar, sedangkan
kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak suasana.
Dalam karya sastra penggunaan diksi atau pilihan kata sangat
beragam. Hal ini mungkin di sengaja oleh pengarangnya untuk keindahan sastra
itu sendiri. Dari sekian banyak novel yang banyak menggunakan diksi adalah
novel Durga Umayi karya Y.B. Mangunwijaya. Dalam novel ini juga
digunakan beberapa istilah pada masa kemerdekaan Indonesia dan beberapa istilah
asing dari bahasa Belanda.
Diksi dalam novel Perempuan di Titik Nol fokus
pada tujuan tersampainya pesan penulis kepada pembaca. Novel Perempuan di Titik
Nol memilih mengunggulkan pada aspek fungsi gaya bahasa metafora, dengan
memanfaatkan fungsi emotif/ekspresif, fungsi imajinatif, fungsi emosional dan
fungsi motivasional.
Dalam novel durga Umayi:
1.1 Pilihan Leksikal Bahasa Asing
Novel Durga
Umayi banyak menggunakan kata-kata dari bahasa asing. Hal ini dilakukan
oleh pengarang untuk menguatkan penggambaran latar waktu pada novel. Novel ini
menggunakan latar waktu saat penjajahan Belanda di Indonesia. Pada zaman
penjajahan Belanda banyak digunakan istilah atau leksikal dari bahasa asing,
terutama bahasa Belanda, Inggris, dan Perancis yang belum tentu semua pembaca memahami makna
bahasa itu.
1.1.1 Pilihan
Leksikal Bahasa Belanda
Beberapa bagian
dalam novel ini memanfaatkan leksikal bahasa Belanda, seperti pada kutipan
berikut ini:
(… menurut seorang tumenggung bahasa Indonesia yang sudah sejak
zaman Gouverneur Generaal Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer sampai
menjelang tahun 2000 …)
Penggunaan
frasa gouvernur generaal merupakan salah satu upaya pengarang
untuk menegaskan latar waktu pada novel. Frasa gouvernur generaal merupakan
istilah dari bahasa Belanda yang berarti gubernur jenderal.
1.1.2 Pilihan
Leksikal Bahasa Inggris
Pilihan
leksikal dari bahasa Inggris mempunyai kadar yang rendah bila dibandingkan
dengan leksikal dari bahasa Belanda. Bahasa Inggris digunakan pengarang sebagai
pendamping bahasa Belanda. (… para pejuang
generasi muda yang tergabung dalam itu lho Gerakan Martabat Perempuan (sering
diejek oleh kaum lelaki chauvinist pigs kolot sebagai “Gerak-gerik
Martabak Perempuan”) …)
Pada
kutipan di atas terdapat frasa chauvinist pigs yang merupakan
leksikal dari bahasa Inggris. Frasa tersebut berarti babi egois keterlaluan.
Dari catatan yang tulis oleh pengarang, frasa itu merupakan nama olok-olok kaum
feminis untuk kaum pria.
(… tanpa sengaja serba surprise mengejutkan, ternyata
adalah dewa idolanya dari gambar sorot Yaeshio dulu itu beserta istri
mudanya.)
(… seorang pemuda dengan kantong dobel dan
bercelana short gaya pandu hijau sirih, bersenapan kayu, kepala
gundul berpici beledu oleng yang tampan seram berasal dari Semarang Randusari
tetapi tinggal di asrama …)
Pada penggalan
pertama, kata surprise berarti terkejut. Kata ini pengertiannya
pada kata mengejutkan yang berada di samping
kata surprise tersebut. Short merupakan kata dalam
bahasa Inggris yang berarti pendek. Pada kutipan ini, kata short digunakan
untuk menjelaskan keintelekkan seseorang.
1.1.3 Pilihan
Leksikal Bahasa Perancis
Penggunaan
leksikal bahasa Perancis digunakan untuk julukan pada kaum bangsawan. Berikut
kutipannya:
(Mungkin Madame Nussy tergolong jenis yang oleh
orang-orang Perancis dari negeri troubadour disebut femme
fatale, akan tetapi kita harus selalu sadar bahwa konteks Indonesia …)
Pada kutipan di
atas terdapat tiga leksikal pada bahasa Perancis, yaitu madame,
troubadour, dan femme fatale. Kata madame berarti nyonya,
kata troubadour merupakan istilah untuk menyebut biduan puri istana
yang berkeliling zaman Perancis Kuno, dan kata femme fatale berarti
wanita pembawa sial. Penggunaan ketiga leksikal ini bertujuan untuk meyakinkan
kepada pembaca bahwa novel ini bercerita saat masa penjajahan Belanda yang
masih dipengaruhi kosa kata para bangsawan Perancis.
1.2 Pilihan Leksikal Bahasa Jawa
Y.B.
Mangunwijaya merupakan keturunan orang jawa yang hidup pada zaman penjajahan
belanda. Hal ini mendorong munculnya penyisipan kata, frasa, maupun kalimat
berbahasa jawa dalam novel tersebut. Berikut kutipannya:
(… maklumlah sebutan puan jauh lebih asli lebih ilmiah dan
psikologis ledih mulia daripada gelar nyonya yang salah
kaprah dipakai oleh para ahli waris Balai Pustaka padahal berbau
teri-terasi Melayu Pasar logat kolong lorong …)
Frase ‘salah kaprah’ adalah suatu pernyataan yang sudah salah namun
mengakar kemana-mana dan masih dilakukan atau diikuti oleh banyak orang. Walaupun sudah ada yang lebih benar tetapi orang lebih condong
dengan pernyataan yang telah ada sebelumnya.
Selain itu, dalam novel tersebut pemanfaatan kata daerah tersurat pada
makanan khas jawa. Berikut kutipannya:
(…yang menjual gethuk cothot yang sangat digemari orang
karena bahan singkongnya sangat gurih dari tanah istimewa vulkanik hadiah
Gunung Sumbing …)
Makanan gethuk
cothot adalah salah satu makanan di Jawa. Gethuk cothot adalah makanan
yang bahan bakunya adalah singkong yang isinya gula merah cair. Makanan ini
adalah makanan khas pribumi saat penjajahan Belanda.
Pengarang juga
memanfaatkan sebutan atau panggilan sapaan untuk orang lain dalam bahasa Jawa.
(… Iin sedang di Jakarta, resminya diajak bibi untuk mencari
pekerjaan di Jakarta, sebab uang untuk meneruskan sekolah sudah tidak ada
setelah Mbok Legimah meninggal …)
Kata mbok merupakan
bentuk sapaan pada ibu atau perempuan tua dalam bahasa Jawa yang berarti ibu. Kata
ini sering dipakai dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di daerah
pedesaan. Selain itu juga ada pula penggunaan nama yang asal usulnya merupakan
nama dalam bahasa Jawa atau dalam adat Jawa. Berikut kutipannya:
(… sayang sebetulnya sebab hanya dua malam ibunya
(Legimah namanya karena lahir si suatu hari Jumuah Legi) …)
( … tetapi
bagaimanapun, Brojol, yakni nama abang kembar dampit Punyo Pertiwi, toh
selalu mendapat bekal hadiah uang tidak sedikit dari adiknya yang dulu ketika
masih kecil …)
Dua penggalan
di atas terkandung dua istilah dalam bahasa Jawa yang dimanfaatkan untuk sebuah
nama orang, yaitu Legimah dan Brojol. Orang zaman dahulu sering
menggunakan istilah Jawa untuk menamai anak-anak mereka.
Dalam novel ini
juga digunakan beberapa kata-kata yang biasa digunakan oleh orang Jawa ketika
dalam percakapan sehari-hari. Berikut kutipannya:
(… tetapi duh gusti biarlah
kemudian Obrus bahagia bersama lagi dengan Legimah …)
Frasa duh
gusti merupakan ujaran dalam bahasa Jawa yang berarti ya Tuhan dalam
bahasa Indonesia.
Dalam novel Perempuan di Titik Nol:
1.3
Pilihan Leksikal
Bahasa
Dalam novel ini, pilihan bahasa yang digunakan adalah untuk mengngkapkan apa
yang dirasakan tokoh pada novel kepada pembaca, dua pasangan konsep yang akan
dibahas, yaitu mengenai konsep laki-laki dan perempuan, dan pikiran dan tubuh.
Pandangan yang dimiliki masyarakat pada umumnya mengenai laki-laki dan
perempuan, berhubungan dengan sistem patriarkal dan oposisi biner, memosisikan
laki-laki lebih superior daripada perempuan, laki-laki sebagai superordinat.
Kemudian, pemikiran itu dilawan oleh tokoh Firdaus dalam novel Perempuan di
Titik Nol ini.
(...Saya dapat
pula mengetahui bahwa semua yang
memerintah adalah laki-laki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan
kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpulkan uang, seks dan
kekuasaan tanpa batas...)
Sistem patriarkal membuat lelaki menjadi pihak yang diuntungkan, sehingga
perempuan berada di posisi marginal, bahkan di dalam novel ini, perempuan
merasakan kehidupan yang sengsara. Dia hanya mampu membayangkan kehidupan yang
lebih baik, membayangkan menjadi seseorang yang hebat, seperti dokter, bahkan
kepala negara. Tetapi pemikirannya telah dibentuk oleh sistem patriarkal, bahwa
hanya laki-laki yang boleh memimpin, meskipun laki-laki yang telah memimpin
tidak selalu menjadi pemimpin yang benar.
(...El-Azhar
adalah suatu dunia yang mengagumkan dan
hanya dihuni oleh orang laki-laki saja, dan Paman merupakan salah seorang dari
mereka, dan dia adalah seorang laki-laki...)
Namun, Firdaus melawan hierarki dari oposisi biner ini dengan menunjukkan,
bahwa perempuan punya hak penuh pada tubuhnya. Firdaus mengambil pilihan untuk
menjadi pelacur, karena tubuhnya ialah suatu kepemilikan utuh seorang
perempuan.
(...Kenyataan
bahwa saya menolak usaha-usaha mereka yang mulia untuk menyelamatkan saya dari
keyakinan untuk bertahan sebagai pelacur, telah membuktikan kepada saya, bahwa
ini adalah pilihan saya dan bahwa saya memiliki sedikit kebebasan paling tidak
kebebasan untuk hidup di dalam keadaan yang lebih baik daripada kehidupan
perempuan lainnya...)
Dengan demikian, baik laki-laki, maupun perempuan punya hak utuh pada apa
yang menjadi miliknya. Masalah yang sebenarnya, muncul pada konsep
‘pemikiran-tubuh’ yang dalam sistem patriarkal, pikiran dianggap lebih superior
dibanding tubuh. Hal ini sebenarnya kembali pada pemikiran yang sama, bahwa
laki-laki lebih superior daripada perempuan. Tentu saja, hal ini dilawan oleh
tindakan Firdaus di atas.
(...Seorang isteri yang bijak tidak layak
mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna...)
Pernyataan tersebut membuat perempuan tidak
nyaman dengan opresi yang dilakukan oleh masyarakat penganut ‘patriarkal’.
Tentu saja, pada hakikatnya setiap orang memiliki hak, baik laki-laki maupun
perempuan. Selain itu, kewajiban pun dimiliki oleh setiap orang dengan jenis
kelamin apapun.
Setiap konsep mungkin saja memiliki kekurangan
ataupun kelebihan. Konsep feminis liberal pun dikritik melalui beberapa hal.
Meskipun demikian, konsep mengenai keinginan adanya kesetaraan hak yang
diajukan oleh kelompok ini merupakan hal yang kami sepakati. Tokoh yang
mengajukan konsep ini ialah Wollstonecraft, John Stuart Mill dan Harriet Taylor
(Mill), dan Betty Friedan. Pada abad 18, Wollstonecraft mengajukan konsep
mengenai kesetaraan pendidikan. Meskipun dia memiliki pandangan, bahwa
perempuan mungkin tidak akan mampu mencapai pemahaman intelektual sama halnya
dengan laki-laki. Tetapi, Mill, pada abad 19, mengajukan pandangan lain, bahwa
kemampuan intelektual laki-laki yang lebih baik, dipengaruhi oleh pendidikan
yang diterima laki-laki lebih lengkap, bukan berhubungan dengan kemampuan
intelektual perempuan yang kurang.
1.4
Dialektika
Perempuan di Titik Nol mengisahkan sisi gelap yang dihadapi perempuan-perempuan Mesir
di tengah kebudayaan Arab yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Perempuan
masih mengalami ketimpangan hak dan tidak pernah mendapatkan hak yang sama
seperti yang didapatkan laki-laki. Mengenai hak-hak perempuan yang kurang
terjamin, kebebasan dalam dunia politik, serta kungkungan hirarkis suami,
membuat perempuan terbelakang dalam segala kesempatan, mengalami diskriminasi,
kekerasan, dan kemiskinan.
(Betapapun juga suksesnya
seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki. Akan tetapi
semua lelaki yang saya kenal, tiap orang di antara mereka telah mengobarkan
dalam diri saya hanya satu hasrat saja; untuk mengangkat tangan saya dan
menghantamkannya ke muka mereka.)
(Mengapa Firdaus dibilang Pelacur? “Saya
tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki
menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga
tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri.
Sang perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang
yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang
istri yang diperbudak.”)
Dari beberapa kutipan dalam novel tersebut,
masyarakat harus tahu bahwa sebenarnya perempuan tidak ada yang memiliki
cita-cita menjadi seorang pelacur, yang menjajakan diri demi selembar rupiah.
Di Indonesia, banyak perempuan yang merasa menjadi perlacur karena tidak
dihargai oleh pasangannya. Dikutip dari sindonews.com, dalam survei
Gerakan Bukti Cinta ( GERBUKCIN ), sebanyak 72% wanita merasa diperlakukan
seperti pelacur, karena hanya diperlukan sebutuhnya bukan seutuhnya, tidak
pernah dirayu atau dimanja. Survei tersebut dilakukan pada Bulan November
2019 dengan 100 responden dari berbagai etnis dan usia.
1.4.1
Masalah Kedudukan dan
Hak-hak Perempuan
Tokoh Firdaus dalam karya sastra ini merupakan
sosok yang problematic. Ia dihadapkan dengan kondisi sosial yang
buruk dan berusaha mendapatkan nilai-nilai kebebasan dari keterkungkungan
tersebut. Tentu saja pengarangnya memiliki maksud tersendiri dalam
menuliskan kisah tersebut. Di sini sastra ditempatkan sebagai media alternatif
perjuangan feminisme yang memunculkan keberanian untuk melihat perempuan,
permasalahan, dan dunianya melalui prespektif mereka secara
otonom. Pembagian peran yang sengat diskriminatif antara laki-laki dan
perempuan lahir dikarenakan sistem kekuasaan yang ada. Laki-laki memiliki
otoritas untuk menguasai dan mendominasi kehidupan perempuan di segala bidang,
baik politik, ekonomi, agama maupun sosial. Relasi antara laki-laki dan
perempuan masih didominasi ideologi dan sistem patriarki.
1.4.2 Kekerasan dan Mahar
Perempuan
Akibat adanya budaya patriarki, sejak kecil Firdaus mengalami
tindak kekerasan dari laki-laki. Ayah Firdaus adalah sosok yang ditakuti dalam
keluarganya. Sebagaimana dalam budaya patriarki, sosok ayah mempunyai peran
dominan dalam keluarga. Tak jarang Firdaus mendapatkan kekerasan dari ayahnya
yang membiarkannya lapar dan membasuh kaki ayahnya apabila sedang kedinginan.
Ayahnya pula yang menciptakan identitas Firdaus sebagai pelayan rumah tangga
pengganti ibunya.
Pelecehan seksual kerap kali didapatkan oleh Firdaus dari
pamannya sejak kecil. “Saya melihat tangan paman saya bergerak-gerak
dibalik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki
saya. Saat berikutnya saya merasakan tangan itu menjelajahi paha saya.”
Perlakuan inilah yang membentuk identitas Firdaus menjadi
perempuan lacur. Ketika Firdaus memasuki usia remaja, ia dinikahkan oleh
pamannya kepada seorang laki-laki bernama Syekh Mahmoud seorang laki-laki tua
yang berperangai kasar dan kikir. Firdaus ditukar dengan mahar yang sangat
mahal. Dalam hubungan rumah tangganya dengan lelaki tua itu Firdaus juga
mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya.
C.
PENUTUP
Kesimpulan
Hasil dari analisis novel Durga Umayi
dan Perempuan di Titik Nol, dapat disimpulkan bahwa kedua novel ini
memiliki pesan moral yang sama, yakni kehormatan perempuan yang dirusak dan
terjadinya budaya patriarki pada peradaban lampau. Pada novel Durga Umayi,
terjadi praktik pergundikan dan kaum perempuan diperlakukan seperti budak
meskipun oleh saudaranya sendiri, dengan penulisan menggunakan diksi yang
beraneka ragam untuk mempertegas setiap peristiwa yang terjadi. Dalam novel Perempuan
di Titik Nol, terjadi suatu fenomena dimana budaya patriarki masih diberlakukan
sehingga perempuan itu sendiri yang memilih untuk lebih baik melacur daripada
menjadi orang suci yang sesat, dengan penggunaan bahasa metafora yang bertujuan
untuk memudahkan pembaca meresapi pesan yang disampaikan.
E. DAFTAR PUSTAKA
https://websearch1.com/p.php?q=sinopsis%20novel%20durga%20umayi (diakses tanggal 27 Agustus 2020)
https://id.wikipedia.org/wiki/Durga_Umayi (diakses tanggal 27 Agustus 2020)
http://beruanggmadu.blogspot.com/2017/04/citraan-gerak-dalam-novel-durga-umayi.html (diakses tanggal 28 Agustus 2020)
https://www.kompasiana.com/juventipermana/55285261f17e61b03b8b4629/sinopsis-novel-perempuan-di-titik-nol-karya-nawal-elsaadawi (diakses tangggal 30 Agustus 2020)
https://www.siarpersma.id/2020/04/13/pandangan-dialektis-novel-perempuan-di-titik-nol/ (diakses tanggal 31 Agustus 2020)
https://www.sindonews.com/ (diakses tanggal 31 Agustus 2020)
Aminuddin. 1995. Stilistika. Memahami bahasa dalam
karya sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Y.B Mangun Wijaya, Durga Umayi. – Jakarta ; Kompas Media
Nusantara, 2018
Nawa el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol, Yayasan Pustaka
Obor Indonesia Jakarta, 2014
Komentar
Posting Komentar