Deliberate Practice sebagai Strategi Alternatif Maintain Educational Belajar Pasca Pandemi Covid-19
Oleh:
Moh. Suma Firman R
Pandemi Covid-19 telah mengubah segala sistem kehidupan di dunia termasuk dalam aspek pendidikan. Fenomena ini bertepatan dengan era dimana banyak orang sering menyebutnya sebagai era revolusi industri 4.0. Era ini datang dan menuntut generasi muda untuk bepikir kreatif, inovatif, dan solutif dalam segala aspek kehidupan, apalagi dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya semangat dan pemikiran kreatif dari generasi muda saja untuk mampu merevolusi maintain educational pasca pandemi Covid-19, namun juga peran negara untuk memfasilitasi hasil kreativitas dan inovasi tersebut, baik dalam bentuk dukungan, kepastian hukum, atau materiil.
Generasi muda tidak boleh menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Perlu pola pikir yang rasional, solutif, dan terbuka supaya generasi muda tidak menjadi individu yang larut tergerus modernisasi teknologi dan bisa menjadi inovator peradaban masa depan. Penggunaan teknologi dalam belajar di masa pandemi adalah bentuk revolusi sistem dalam dunia pendidikan. Penggunaan teknologi dalam belajar di masa pandemi bisa menimbulkan dua kemungkinan, yaitu peluang atau ancaman. Revolusi industri 4.0 ini sering juga disebut sebagai era disrupsi, era inovasi, atau juga disebut sebagai ancaman. Pasalnya, jika generasi muda tidak bisa mengontrol diri dalam penggunaan teknologi, maka generasi masa depan akan terancam rusak karena pengaruh teknologi tersebut. Namun, apabila generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk berkreasi dan berinovasi, dan menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi suatu negara atau bahkan dunia, maka penggunaan teknologi mampu mengisi peluang memperbaiki masalah dan peradaban.
Indonesia harus bergerak menyongsong revolusi industri 4.0 ini, apalagi berdasar data siaran pers Bappenas (2017), Indonesia akan mendapat masa bonus demografi pada tahun 2030 mendatang, yakni penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total proyeksi penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa.
Seperti dalam pidato Presiden Joko Widodo pada Jumat (14/8/2020) menyampaikan, di tengah pandemi Covid-19 Indonesia harus melakukan lompatan-lompatan besar, tidak hanya sektor kesehatan, berbagai transformasi pun dibutuhkan mulai dari ekonomi, pangan, pendidikan, pemerintahan, dan kebudayaan. Berdasarkan penilaian Kemendikbud, kegiatan belajar dengan memanfaatkan teknologi akan menjadi hal yang mendasar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyebutkan, pemanfaatan teknologi memberi kesempatan kepada sekolah melakukan berbagai modeling kegiatan belajar.
Dari data tersebut disimpulkan bahwa aspek peningkatan mutu pendidikan patutnya menjadi master of priority, supaya Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, era revolusi industri 4.0, dan melesat pasca pandemi Covid-19, yaitu terciptanya generasi muda unggul, dan kompetitif melalui ranah pendidikan, dan mampu bersaing di kancah internasional khususnya dalam aspek pendidikan.
Dari latar belakang tesebut, maka rumusan masalah yang dibahas adalah bagaimana konsep Deliberate Practice sebagai Strategi Alternatif Maintain Educational Belajar Pasca Pandemi Covid-19, untuk pendidikan Indonesia unggul setelah pandemi Covid-19.
Penerapan
Deliberate Practice sebagai Strategi Alternatif Maintain Educational
Belajar Pasca Pandemi Covid-19, Untuk Mempertahankan Kualitas Pendidikan, dan Meningkatkan
Kekompetitifan Bersaing di Kancah Internasional Secara Cerdas diSetiap Bidang
Oleh Pelajar di Indonesia.
Berdasarkan vonis bonus demografi, dan era revolusi
industri 4.0 yang semakin benar adanya ditambah dengan tantangan pandemi Covid-19.
Maka pendidikan menjadi salah satu urgensi guna mencapai generasi emas
Indonesia 2045, dengan segala ketertinggalan secara massal dari dampak pandemi
Covid-19. Konsep Indonesia emas 2045 haruslah disambut positif karena pada periode
inilah generasi muda bisa menunjukkan esensinya, bahwa kita mampu meningkatkan
kualitas sumber daya manusia melalui sistem pendidikan yang baru pasca pandemi
Covid-19. Jika konsep itu sudah bisa dicapai maka visi peningkatan kualitas
hidup manusia Indonesia akan mudah untuk
dicapai dengan peraihan prestasi yang maksimal.
Maka dari itu, generasi muda memerlukan sistem metode belajar yang tepat dan solutif guna membangkitkan mutu pendidikan pasca pandemi Covid-19, metode ini bernama Deliberate Practice. Deliberate Practice adalah istilah yang digunakan oleh Professor Anders Erricson seorang pakar bidang pengembangan sumber daya manusia dan penulis buku Secrets From The New Secret of Expertise. Dia menggunakan kata Deliberate Practice untuk menggambarkan tipe latihan atau belajar fokus, konsisten, berorientasi target yang digunakan orang bertalenta dari berbagai bidang untuk meningkatkan kemahiran mereka.
Memang Deliberate Practice ini akan memakan waktu dan memaksa kita keluar dari zona nyaman dan mendorong kita melampaui batas dari kemahiran yang kita miliki sekarang. Metode ini mengharuskan generasi muda untuk belajar dengan cara yang spesifik dan berkelanjutan pada sesuatu yang ingin dia menjadi ahli di dalamnya. Deliberate Practice selalu mengikuti pola yang sama: pecahkan keseluruhan proses menjadi beberapa bagian, identifikasi kelemahan, mengetes strategi baru untuk setiap bagian, dan menggabungkan setiap pembelajaran menjadi satu proses secara keseluruhan.
Deliberate practice bukanlah sekadar kegiatan latihan biasa yang didominasi kegiatan mengulang suatu aktivitas tanpa banyak evaluasi atau proses re-thinking, tanpa memikirkan ulang bentuk dan capaian proses latihan yang dilakukan selama ini sudah efektif atau tidak.
Deliberate practice adalah proses belajar yang efektif, dimana instruksi yang diberikan jelas berdasarkan metode terbaik, juga didampingi oleh seorang pembimbing yang mampu mendeteksi jika ada kesalahan, memberikan umpan balik yang sifatnya informatif, atau menginformasikan perlunya mengulang bagian dari latihan dengan satu tujuan yang spesifik dan terfokus untuk meningkatkan kemampuan dalam suatu bidang tertentu. Proses latihan ini menekankan kepada pentingnya tujuan yang spesifik dan evaluasi dari orang lain untuk menentukan metode latihan yang baik untuk dilakukan. Deliberate practice adalah wujud dari pernyataan “kerja cerdas”, bukan semata-mata kerja keras, yang hanya menitikberatkan kepada kuantitas latihan.
Deliberate practice tidak sama seperti practice yang lain, perbedaan ada pada elemen yang melekat pada masing-masing keduanya. Berikut elemen fundamental deliberate practice.
1. Tentukan tujuan yang jelas dan
tingkatkan performa.
Skill
apa yang ingin dikuasai, sejauh mana kita ingin menguasainya, apa yang akan
kita lakukan untuk mengaplikasikan skill, semuanya itu sudah harus dipikirkan sebelum mulai berlatih intensif
untuk mempelajarinya. Tujuan yang jelas membantu merumuskan cara berlatih
terbaik, sekaligus menjadi pembakar semangat selama proses latihan sehingga
membuat terus dapat memberikan yang terbaik dalam setiap prosesnya. Fokus
menjadi hal utama, generasi muda sekarang harus berpikir apa yang dibutuhkan
Indonesia guna menghadapi dampak pendidikan pasca pandemi Covid-19 dan mulai
melakukan pengembangan atas hal yang belum dikuasi sehingga kedepannya menjadi
bisa dan mahir di dalamnya.
2. Fokus terhadap hal yang ingin dilatih.
Seringkali, seiring berjalannya
waktu, kita justru mulai kehilangan fokus akan tujuan awal dan tidak lagi
melakukan evaluasi untuk mengembalikan tujuan awal tersebut. Hal ini karena
otak manusia memiliki tendensi untuk mengubah tindakan yang berulang-ulang
menjadi sebuah kebiasaan. Misalnya saja, dalam kasus belajar mengikat dasi.
Mungkin ketika kita belajar mengenakan dasi, kita sangat sadar dengan setiap
langkah-langkah yang kita lakukan. Namun, ketika sudah terbiasa,
kita melakukannya secara tidak sadar. Intinya, semakin sering dilakukan,
semakin kita tidak memiliki kesadaran untuk mengevaluasinya kembali. Ini adalah
musuh besar deliberate practice. Untuk itu, dalam
melakukan metode belajar deliberate practice, kita harus selalu
mengingat tujuan kita, dan berusaha konsisten secara terstruktur dalam
pelaksanaan metode belajar deliberate practice.
3. Harus ada umpan balik.
Umpan balik adalah hal yang sangat
penting dalam deliberate practice untuk menjaga fokus terhadap hal yang
ingin kita latih. Tanpa menyimpan catatan dari performa kita, sangat mungkin
untuk gagal melihat perkembangan atau penurunan performa kita. Terdapat dua hal
yang sangat umum dilakukan dalam menerima feedback.
Pertama Mengukur performa. Berapa
jumlah halaman buku yang sudah dibaca, berapa kata yang sudah ditulis dalam
esai, berapa banyak soal yang sudah dikerjakan, semuanya itu adalah hasil
pengukuran yang dapat dijadikan acuan
sebagai umpan balik. Hasil pengukuran seperti ini objektif dan jelas, kita dapat membedakan apakah
kita menjadi lebih baik atau lebih buruk daripada sebelumnya.
Kedua Melakukan Pembinaan. Metode deliberate
practice acap kali dilekatkan dengan adanya pendampingan pelatih
profesional. Terkadang sulit untuk dapat berlatih dan mengukur progress
dalam waktu yang sama. Kehadiran pelatih ini membantu kita untuk melihat
kemampuan kita secara lebih objektif, memberikan umpan balik sesegera mungkin,
serta dapat merekomendasikan metode-metode latihan yang efektif dan layak kita
coba. Pelatih juga bertujuan untuk mengingatkan kita akan tujuan kita sembari
kita menjalani proses latihan. Pelatih bisa dikatakan guru jika dalam sekolah.
4.
Deliberate
practice bukanlah metode yang menyenangkan.
Generasi muda harus berupaya
maksimal untuk bisa ikut andil di era ini. Generasi muda diera ini baiknya
senang mencoba hal baru yang positif sebagai upaya inovasi agar Indonesia
mempunyai kader generasi muda yang unggul dan mampu memberi solusi untuk sistem
belajar baru yang efektif dan efisien pasca pandemi Covid-19. Deliberate
practice bukan metode yang menyenangkan dan tidak membosankan, deliberate
practice adalah metode belajar yang dilakukan secara terus menerus dan
perlahan dalam memahami suatu bidang yang dilatih, agar dapat memahami materi
secara optimal. Erricson dalam artikelnya mengatakan butuh total waktu latihan
10.000 jam agar menjadi expert dibidang yang diinginkan.
5. Take Your Time
Deliberate practice
adalah serangkaian proses yang tidak mudah dan tidak sebentar. Hasilnya mungkin
tidak akan terlihat dalam waktu dekat. Kita perlu membagi waktu secara
terstruktur dalam penerapan metode deliberate practice. Oleh karena itu, kita harus mempercayai
proses yang kita lalui dengan sabar dan konsisten. Hanya dengan itu, kita dapat
benar-benar menuai hasil sesuai dengan yang diharapkan.
Sudah
saatnya generasi muda ikut andil dalam pemulihan mutu pendidikan pasca pandemi
Covid-19 yang didukung oleh hadirnya era revolusi industri 4.0, dengan mulai
membenahi diri masing-masing dan tidak lagi menjadi penonton atas berhasilnya
negara tetangga, generasi muda adalah penentu sukses atau tidaknya negara ini.
Generasi muda diharapkan bisa menjadi agent of change dengan menggunakan
metode deliberate practice dengan membuat program solutif untuk metode
sistem belajar pasca pandemi Covid-19.
Implementasi
metode belajar Deliberate Practice tidaklah sulit dan bahkan tidak
mengeluarkan banyak biaya, namun disini perlu peran aktif generasi muda untuk
menjadi faktor penentu apakah mau beraksi mengeksekusi beribu ide, ataukah
hanya diam menatap laju perubahan dan larut dalam ombak modernisasi ditambah
terjangan pandemi yang sangat cepat dan dia akan tertinggal di belakang. Peran pemerintah
mutlak diperlukan agar gerakan ini mengahasilkan output yang mampu bersaing
di tengah pandemi Covid-19 dan mampu mendapat hasil yang maksimal dari
lompatan-lompatan yang kita lakukan di tengah pandemi ini, untuk harapan masa
depan pasca pandemi Covid-19 yang lebih baik.
Berdasarkan
pembahasan yang telah dilakukan dapat dimuat beberapa kesimpulan sebagai
berikut:
Deliberate practice
sebagai salah satu cara yang dapat ditempuh generasi muda sebagai alternatif model
belajar pasca pandemi Covid-19 dengan pemanfaatan teknologi seperti penggunan internet
of things hasil dari revolusi industri 4.0 secara cerdas dan tepat sasaran,
dengan tugas-tugas yang cukup jelas dan bisa dilakukan setiap generasi muda.
Diharapkan generasi muda dapat memahami pentingnya melakukan aksi positif
sebagai upaya mewujdukan Indonesia sebagai negara maju di masa depan dengan
pemanfaatan dan pengembangan teknologi secara bijak.
Adapun saran
yang disampaikan melalui karya tulis ini adalah:
Pentingnya
pemerintah menyediakan ruang bagi generasi muda utamanya pelajar yang ingin
berdedikasi tinggi untuk mengeluarkan gagasan visioner dan solutif guna
berkontribusi membangun ekosistem generasi muda untuk Indonesia maju.
Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk mendorong program Deliberate
Practice agar penerapannya bisa menjadi suatu program pendidikan secara
nasional di Indonesia. Kebijakan Deliberate Practice haruslah
disosialisasikan secara luas dan tepat sasaran agar generasi muda utamanya
pelajar tidak terjerumus masalah yang mungkin timbul beriringan dengan maraknya
penggunaan internet of things.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.bappenas.go.id/files/9215/0397/6050/Siaran_Pers_-_Peer_Learning_and_Knowledge_Sharing_Workshop.pdf (diakses 13 Nopember 2020, 10.02 WIB)
https://ekonomi.bisnis.com/read/20200814/9/1279230/ini-pidato-lengkap-jokowi-di-sidang-tahunan-mpr-2020 (diakses 13 Nopember 2020, 15.26
WIB)
https://www.zenius.net/blog/84/deliberate-practice-dp (diakses 13 Nopember 2020, 16.07
WIB)
Hasbi, Farhan Aly. 2019. “Deliberate Practice yang
Terintegrasi sebagai Strategi Alternatif untuk Menyongsong Revolusi Industri
4.0 Secara Cerdas di Indonesia”. Karya Tulis Ilmiah.Tulungagung: MAN 3
Tulungagung
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 2018. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Universitas
Pendidikan Indonesia.
Alwi,
Hasan, dkk. (Ed). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Komentar
Posting Komentar