Stunting? Apa ya?
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis akibat kurangnya
asupan gizi dalam waktu yang cukup lama sehingga mengakibatkan gangguan
pertumbuhan pada anak. Seorang anak dianggap mengalami stunting jika tinggi
badan mereka lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya
(berdasarkan WHO-MGRS).
Apa penyebab stunting pada anak?
Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak
bayi dalam kandungan hingga periode awal kehidupan anak (1000 hari setelah
lahir). Beberapa faktor yang mengakibatkan kekurangan gizi kronis, antara lain:
🍗Faktor gizi
buruk yang dialami ibu hamil dan anak balita
🍗Kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat
hamil, dan setelah melahirkan
🍗Terbatasnya akses pelayanan kesehatan, termasuk layanan
kehamilan dan postnatal (setelah melahirkan)
🍗Kurangnya akses air bersih dan sanitasi
🍗Kurangnya akses makanan bergizi karena ketidakmampuan biaya
Apa saja gejala dan dampak stunting?
Berikut adalah beberapa gejala stunting yang bisa
diidentifikasi:
👶Tubuh pendek di bawah rata-rata karena pertumbuhan melambat
👶Pertumbuhan gigi terlambat
👶Buruknya kemampuan fokus dan mengingat pelajaran
👶Pubertas yang terlambat
👶Anak menjadi lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak
mata dengan orang di sekitarnya (biasanya pada anak usia 8-10 tahun).
Stunting dapat memberikan dampak buruk pada anak, baik dalam
bentuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek stunting
adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pada pertumbuhan
fisiknya, serta gangguan metabolisme.Sedangkan, dampak jangka panjang stunting
yang tidak segera ditangani adalah penurunan kemampuan kognitif otak, kekebalan
tubuh melemah sehingga mudah sakit, dan memiliki risiko tinggi terkena penyakit
metabolik, seperti kegemukan, penyakit
jantung, dan penyakit pembuluh darah.
Cara mendeteksi stunting pada anak
Stunting dapat dideteksi melalui pusat pelayanan kesehatan,
seperti puskesmas atau rumah sakit, dengan menggunakan pengukuran standar baku
WHO-MGRS (Multicenter Growth References Study), Z-score, dan Denver-milestones. Bagaimana cara mencegah stunting pada anak?
Stunting pada anak dapat dicegah melalui beberapa cara
penting, seperti:
1. Pola makan
Istilah 'Isi Piringku' dengan gizi seimbang perlu
diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi
makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, sementara setengahnya lagi
diiisi dengan sumber protein (nabati atau hewani) dengan porsi yang lebih
banyak dibandingkan karbohidrat.
2. Pola asuh
Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola
asuh yang kurang baik dalam memberi makan bayi dan balita. Untuk mencegah
stunting, pola asuh yang baik dapat diterapkan mulai dari edukasi tentang
kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja, hingga para calon ibu untuk memahami
pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil.Langkah pencegahan lain yang bisa
diambil, yaitu memeriksakan kandungan secara rutin saat hamil, menjalani persalinan
di fasilitas kesehatan, melakukan inisiasi menyusui dini (IMD), dan
mengupayakan pemberian air susu ibu (ASI), terutama pada beberapa hari setelah
kelahiran bayi saat ASI mengandung banyak
kolostrum. Berikan ASI secara eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan,
diikuti dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pantau terus tumbuh
kembang bayi pada pusat pelayanan kesehatan.
3. Sanitasi dan akses air bersih
Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, akses
sanitasi, dan air bersih, memiliki peran dalam pembentukan stunting. Selain
itu, kebiasaan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir perlu diterapkan untuk
menjaga tubuh dari berbagai faktor penyebab stunting.
Cegah Stunting, Itu Penting!!!
Komentar
Posting Komentar