Apasih Kesehatan Reproduksi itu?
Kesehatan reproduksi (Kespro) adalah suatu keadaan sejahtera fisik,mental,dan sosial secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam suatu yang berkaitan dengan system reproduksi, fungsi dan prosesnya (WHO).
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sempurna fisik, mental
dan kesejahteraan social dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit atau
kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan system reproduksi dan fungsi
serta proses (ICPD, 1994).
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sehat mental,
fisik dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan
dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang
bebas dari penyakit dan kecacatan serta dibentuk berdasarkan perkawinan yang
sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak, bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, spiritual yang memiliki hubungan yang serasi,
selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan antara keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan (BKKBN,1996).
Kesehatan reproduksi adalah kemampuan seseorang untuk dapat
memanfaatkan alat reproduksi dengan mengukur kesuburannya dapat menjalani
kehamilannya dan persalinan serta aman mendapatkan bayi tanpa resiko apapun (Well
Health Mother Baby) dan selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas normal
(IBG. Manuaba, 1998).
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara
menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan
alat, fungsi serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi
bukannya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat
memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah menikah
(Depkes RI, 2000).
Tujuan Kesehatan Reproduksi
1. Tujuan Utama
Memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif
kepada perempuan termasuk kehidupan seksual dan hak-hak reproduksi perempuan
sehingga dapat meningkatkan kemandirian perempuan dalam mengatur fungsi dan
proses reproduksinya yang pada akhirnya dapat membawa pada peningkatan kualitas
kehidupannya.
2. Tujuan Khusus
💙Meningkatnya kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya.
💙Meningkatnya hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan.
💙Meningkatnya peran dan tanggung jawab sosial pria terhadap akibat dari perilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dan anakanaknya.
Sasaran Kesehatan Reproduksi
Terdapat dua sasaran Kesehatan Reproduksi yang akan dijangkau
dalam memberikan pelayanan, yaitu sasaran utama dan sasaran antara.
1. Sasaran Utama
Laki-laki dan perempuan usia subur, remaja putra dan putri
yang belum menikah. Kelompok resiko: pekerja seks, masyarakat yang termasuk
keluarga prasejahtera. Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja.
a. Seksualitas.
b. Beresiko/menderita HIV/AIDS.
c. Beresiko dan pengguna NAPZA.
2. Sasaran Antara Petugas Kesehatan
a. Kader Kesehatan, Dukun tradisional.
b. Tokoh Masyarakat.
c. Tokoh Agama.
d. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi.
Faktor-faktor tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat
golongan yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi, yaitu:
1. Faktor Demografis - Ekonomi
Faktor ekonomi dapat mempengaruhi Kesehatan Reproduksi yaitu kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, usia pertama melakukan hubungan seksual, usia pertama menikah, usia pertama hamil. Sedangkan faktor demografi yang dapat mempengaruhi Kesehatan Reproduksi adalah akses terhadap pelayanan kesehatan, rasio remaja tidak sekolah , lokasi/tempat tinggal yang terpencil.
2. Faktor Budaya dan Lingkungan
Faktor budaya dan lingkungan yang mempengaruhi praktek
tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak
anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak
dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, pandangan agama,
status perempuan, ketidaksetaraan gender, lingkungan tempat tinggal dan cara
bersosialisasi, persepsi masyarakat tentang fungsi, hak dan tanggung jawab
reproduksi individu, serta dukungan atau komitmen politik.
3. Faktor
Psikologis
4. Faktor
Biologis
Faktor biologis mencakup ketidak sempurnaaan organ
reproduksi atau cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit
menular seksual, keadaan gizi buruk kronis, anemia, radang panggul atau adanya
keganasan pada alat reproduksi.
Dari semua faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi
diatas dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan perempuan, oleh karena
itu perlu adanya penanganan yang baik, dengan harapan semua perempuan
mendapatkan hak-hak reproduksinya dan menjadikan kehidupan reproduksi menjadi
lebih berkualitas.
Masalah Kesehatan Reproduksi
Beberapa masalah dapat terjadi pada setiap tahapan siklus
kehidupan perempuan, dibawah ini diuraikan masalah yang mungkin terjadi mada
setiap siklus kehidupan.
1. Masalah reproduksi
2. Masalah
gender dan seksualitas
Pengaturan negara terhadap masalah seksualitas. Maksudnya
adalah peraturan dan kebijakan negara mengenai pornografi, pelacuran dan
pendidikan seksualitas. Pengendalian sosio-budaya terhadap masalah seksualitas,
bagaimana norma-norma sosial yang berlaku tentang perilaku seks, homoseks,
poligami, dan perceraian. Seksualitas dikalangan remaja.Status dan peran
perempuan. Perlindungan terhadap perempuan pekerja.
3. Masalah kekerasan dan perkosaan terhadap
perempuan
4. Masalah
Penyakit yang Ditularkan Melalui Hubungan Seksual
5. Masalah
Pelacuran Demografi Pekerja Seksual Komersial atau Pelacuran.
6. Masalah
Sekitar Teknologi
Hak-hak Kesehatan Reproduksi
Hak reproduksi perempuan sangat jarang dibicarakan, pada kenyataanya
perempuan lebih memahami dan menjalankan kewajibanya misalnya sebagai ibu rumah
tangga, mendidik anak dan sebagai istri dari pada membicarakan tentang hak–hak
reproduksinya. Hak asasi semua pasangan dan pribadi untuk menentukan secara
bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, dan menentukan waktu
kelahiran anak-mereka.
Mempunyai informasi dan cara untuk memperoleh anak dan hak untuk mencapai standar tertinggi kesehatan seksual dan reproduksinya, dan dapat membuat keputusan mengenai reproduksi yang bebas diskriminasi, paksaan, dan kekerasan. Hak reproduksi perorangan adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan (tanpa memandang perbedaan kelas sosial, suku, umur, agama, dll) untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab (kepada diri, keluarga, dan masyarakat) mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta penentuan waktu kelahiran anak dan akan melahirkan. Hak reproduksi ini didasarkan pada pengakuan akan hak-hak asasi manusia yang diakui di dunia internasional.












Komentar
Posting Komentar